<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848</id><updated>2011-12-20T23:37:09.887-08:00</updated><category term='orang Tua Super'/><category term='Peran Orang tua'/><category term='Tip Mengasuh Anak'/><category term='kesehatan'/><category term='Psikologis'/><title type='text'>Menjadi Orang Tua Super</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-3132818917151112278</id><published>2010-10-02T15:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T15:22:19.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Empat Langkah Agar Anak Cerdas Secara Emosi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/TKewZiu9k5I/AAAAAAAAAm4/VoTZPmBWItE/s1600/880249-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/TKewZiu9k5I/AAAAAAAAAm4/VoTZPmBWItE/s320/880249-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5523577420860199826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik tentu karena peran orang tua dan lingkungan sekitarnya. Namun, kebebasan seorang anak untuk berekspresi kadang terhambat lantaran anak-- terlebih laki-laki-- sering dilabelisasi terhadap sosok yang harus kuat. Tidak boleh menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jenis emosi baik senang, sedih, bangga, haru, dan jijik itu semua perasaan yang baik laki-laki maupun perempuan boleh mengekspresikannya. Demikian penuturan Fadhilah Suralaga, M.Psi,  Pembantu Dekan (Pudek) Bidang Akademik Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Lebih lanjut Pudek I yang juga merangkap dosen psikologi pendidikan UIN Jakarta ini menegaskan bahwa pada hakikatnya perempuan dan laki-laki adalah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada psikologi perkembangan, dapat dibuktikan bahwa laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sama. Namun, karena bentuk fisik yang berbeda, maka peranan pun berbeda," ujar Fadhilah, Selasa (28/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam psikologi perkembangan, kata Fadhilah, akan pula terbukti bahwa laki-laki yang dilabelisasi sebagai sosok yang kuat, berani dan tangguh tidak semua seperti itu. "Sebaliknya, perempuan yang dianggap sensitif, mudah menangis, terlalu berperasaan, pemalu, tidak semua juga seperti itu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, lanjut Fadhilah, kebebasan berekspresi adalah bawaan yang memang idealnya tak boleh ditahan. "Sebab, jika ditahan, maka fungsi-fungsi emosional tidak berjalan secara baik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya pula, ujar Fadhilah, sebagai orang tua yang baik dan mengenal perkembangan emosi anak, label stereotipe pada laki-laki yang sering dianjurkan untuk tidak menangis (cengeng- red) sebaiknya tidak terus dipraktikkan. "Pembinaan emosi saat mencapai kematangan emosi perlu dikenali kepada anak-anak sejak dini. Sehingga, emosi tidak boleh ditahan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fadhilah, tumbuh kembang anak akan berkembang dengan baik saat mereka dikenali beberapa jenis emosi. Setidaknya, ada empat langkah agar emosi anak dapat berkembang dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, kenali jenis-jenis emosi pada anak. "Mengenali jenis emosi pada anak penting. Sehingga pada akhirnya, si anak akan tahu benar kapan ia sedih, senang, murung, jijik, dan lain sebagainya,'' jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memperkenalkan jenis emosi kepada anak, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;langkah kedua&lt;/span&gt; adalah mengajarkan mereka untuk mengelola emosinya. "Langkah kedua ini penting, agar anak tersebut mampu mengekspresikan emosinya dengan baik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; setelah si anak diberikan pemahaman dan pengelolaan emosi ialah ajari mereka untuk memahami emosi orang lain. "Pada tahap ini, mereka akan paham kondisi seseorang saat sedang marah karena ia pun pernah mengalami hal tersebut. Mereka tidak akan tahu seseorang sedang marah, jika ia tidak pernah mengalaminya," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terakhir,&lt;/span&gt; setelah semua tahapan emosi sudah dikenali pada anak, selanjutnya adalah ajari mereka untuk bersedia berkorban untuk orang lain. "Tahap terakhir ini juga penting karena dapat melahirkan empati terhadap orang lain," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : www.replubika.or.id&lt;br /&gt;Red: Endro Yuwanto&lt;br /&gt;Rep: Ina Febriani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-3132818917151112278?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/3132818917151112278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/10/empat-langkah-agar-anak-cerdas-secara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3132818917151112278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3132818917151112278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/10/empat-langkah-agar-anak-cerdas-secara.html' title='Empat Langkah Agar Anak Cerdas Secara Emosi'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/TKewZiu9k5I/AAAAAAAAAm4/VoTZPmBWItE/s72-c/880249-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-4200428477186092903</id><published>2010-08-30T22:29:00.000-07:00</published><updated>2010-08-30T22:33:48.969-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Kapan Perlu Obat Penurun Panas?</title><content type='html'>JAKARTA, KOMPAS.com - Tak perlu panik berlebihan bila suhu tubuh si kecil panas atau demam. Sesungguhnya, demam adalah respon tubuh terhadap infeksi.  Itu sebabnya orangtua tidak disarankan terlalu gampang memberikan obat penurun panas bila suhu tubuh anak naik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat anak demam, idealnya memang diketahui dulu penyebabnya, virus atau bakteri. Kalau disebabkan oleh virus, 80 persen akan sembuh dengan sendirinya dan hanya 20 persen yang membutuhkan perawatan," kata dr.Kiki Madiapermana Samsi, Sp.A, dari Kemang Medical Center Jakarta, dalam diskusi bersama media di Jakarta, Selasa (30/3/2010) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian obat penurun panas sebaiknya di berikan bila suhu tubuh anak mencapai 39 derajat celsius. "Kalau baru 37,5 derajat sebaiknya tahan dulu. Masalahnya pemberian obat penurun panas itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi ia menurunkan suhu tubuh tapi di sisi lain bila sering-sering diberikan bisa merusak hati, padahal ini obat yang standar," tambah dr.Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, penundaan pemberian obat penurun panas dimaksudkan agar dokter bisa melihat pola sakitnya. "Kalau baru 37,5 sudah dikasih obat bagaimana dokter bisa mendeteksi polanya," tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan perlu ke dokter? "Bila orangtua merasa panik dan merasa perlu membawa anaknya ke dokter silakan saja, tapi sebaiknya jangan minta obat kalau hari itu belum perlu obat, jangan memaksa untuk periksa lab kalau baru dua hari demam," ujar Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, biasanya dokter memberikan obat untuk para orangtua yang panik tersebut. "Daripada membeli obat dengan dosis tak terkontrol, mending di kasih obat antibiotik dosis rendah, jadi meski penyebabnya virus tak akan berbahaya," paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi demam anak, orangtua bisa mengompres anak dengan air hangat serta sering-sering memberinya minum. Masuknya cairan yang banyak lalu dikeluarkan lagi dalam bentuk urin, merupakan salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-4200428477186092903?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/4200428477186092903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/08/kapan-perlu-obat-penurun-panas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4200428477186092903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4200428477186092903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/08/kapan-perlu-obat-penurun-panas.html' title='Kapan Perlu Obat Penurun Panas?'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-3643234638778186995</id><published>2010-07-04T15:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T16:08:18.755-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>"Picky Eater" Bisa Disebabkan Oleh Neophobia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/TDEUWu4f2cI/AAAAAAAAAmU/l5Cl9rc2lK0/s1600/cb7405-004.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 172px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/TDEUWu4f2cI/AAAAAAAAAmU/l5Cl9rc2lK0/s320/cb7405-004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490191801516022210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS.com - Picky eater adalah istilah yang diberikan pada anak yang susah makan, atau hanya suka makanan jenis tertentu saja. Kesulitan makan pada anak dapat menyebabkan anak akan kekurangan mikro dan makronutrien yang pada akhirnya dapat mengganggu pertumbuhan fisik, juga kognitif. Penyebabnya beragam, dari mulai meniru pola makan lingkungan terdekatnya yang juga pilih-pilih makanan, infeksi, masalah di perncernaan anak, hingga faktor psikologis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki 1-2 tahun, kemauan anak untuk mencoba jenis makanan baru yang berbeda akan menurun. Kondisi ini sering disebut dengan neophobia, atau ketakutan untuk mencoba segala sesuatu yang baru yang biasanya muncul di usia-usia awal seorang anak. Mereka ini menolak jenis makanan tertentu. Mereka hanya menyukai rasa tertentu, dan hanya menyantap sejumlah kecil makanan yang tentu tak sebanding dengan kebutuhan tubuh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, perilaku neophobic ini akan menghilang begitu anak dewasa. Pada saat itu, anak akan mulai terekspos oleh banyak hal-hal baru, sehingga sedikit demi sedikit mereka akan menjadi tidak takut lagi terhadap apa-apa yang baru yang tidak mereka kenal dan coba sebelumnya, termasuk makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Picky eater yang terus menerus juga bisa merupakan proses atau reaksi emosional anak terhadap orangtuanya. Seringnya anak menerima ancaman atau hukuman karena menolak makan atau pengalaman yang tidak menyenangkan saat anak mulai mengenal makanan padat, dapat membuatnya menjadi anak dengan keluhan sulit makan. Hubungan yang tidak sesuai dan tidak harmonis antara anak dan orang di sekitarnya atau antara anak dengan kondisi lingkungan ini akan menimbulkan reaksi penolakan secara psikologis berupa gangguan makan pada anak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anak Anda sulit makan? Jangan dianggap sepele. Jika berat tubuhnya tidak bertambah sesuai batas rata-rata anak seusianya, orangtua tak perlu terlalu khawatir, namun tetap harus diperkenalkan dengan gizi seimbang. Namun, bila nafsu makan anak menurun, harus dicari tahu penyebabnya. Apakah karena ada masalah pada pencernaan, atau hal lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema makan pada anak bisa berakibat buruk pada tumbuh kembangnya. Sedikitnya makanan yang masuk ke dalam perutnya bisa menjadi indikasi bahwa anak berpeluang menderita kurang gizi. Indikator status kurang gizi dicerminkan oleh berat badan atau tinggi badan di bawah standar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa disiasati&lt;br /&gt;Jika kebiasaan anak memilih makanan bukan karena masalah penyakit, yang paling mudah adalah dengan mengevaluasi menu yang dibuat untuk anak, jangan memasak yang itu-itu saja, variasikan menu makanan untuk anak, cari resep-resep dari buku-buku, koran, majalah, dan internet. Orangtua harus turun tangan mencoba sendiri resep-resep tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua seharusnya menyediakan makanan yang mengandung energi, karbohidrat, lemak, dan protein, serta vitamin. Tanpa vitamin, maknaan yang diasup tidak akan optimal diubah menjadi energi. Seluruh faktor ini diperlukan untuk pembentukan otot, tulang, sel-sel organ, serta membantu penghantaran informasi di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalsium dan protein merupakan zat gizi kunci untuk pertumbuhan fisik anak karena sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan otot. Protein juga dibutuhkan untuk perkembangan fungsi otak sehingga dapat meningkatkan fungsi kognitif anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Picky eater sendiri sebetulnya bisa disiasati. Kuncinya ada pada orangtua dan pengasuh anak. Misalnya, sejak anak berusia 6 bulan, orangtua atau pengasuh anak mulai memberikan makanan padat. Nah, masa perkenalan ini harus terus-menerus dicoba dan dilakukan. Jangan misalnya baru sekali anak menolak makan sayur, terus tidak dicoba lagi. Bisa jadi, pada upaya yang kelima, baru anak mau makan sayur. Orangtua juga harus kreatif mencari pengganti dari jenis makanan yang tidak disukai anak. Pola makan seimbang mengharuskan adanya karbohidrat, protein, lemak, ditambah sayuran dan buah. Kalau anak tidak mau makan nasi, bisa diganti dengan roti, kentang, atau pasta. Itu untuk karbohidratnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalau anak enggak suka ikan, bisa diganti daging dan sebagainya. Siasati juga penyajian makanan untuk si kecil. Misalnya, membuat sendiri bakso, kemudian di dalamnya dimasukkan wortel atau brokoli yang sudah dihancurkan dengan blender. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pula jam makan anak, jangan memberikan susu atau selingan makanan yang manis-manis mendekati waktu makan. Buat jadwal yang teratur dari pagi menjelang tidur, dengan antara 2-3 jam. Jangan memaksa anak untuk menghabiskan makanannya. Mungkin dia sudah merasa kenyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, jadikan waktu makan sebagai hal yang menyenangkan serta selalu memberikan contoh pola makan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-3643234638778186995?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/3643234638778186995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/07/picky-eater-bisa-disebabkan-oleh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3643234638778186995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3643234638778186995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/07/picky-eater-bisa-disebabkan-oleh.html' title='&quot;Picky Eater&quot; Bisa Disebabkan Oleh Neophobia'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/TDEUWu4f2cI/AAAAAAAAAmU/l5Cl9rc2lK0/s72-c/cb7405-004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-4087942021584443160</id><published>2010-02-13T22:40:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T22:42:44.321-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Musik Klasik Bantu Naikkan Berat Badan Bayi Prematur</title><content type='html'>LONDON--Para ahli syaraf telah sepakat bahwa getaran atau suara musik klasik seperti ciptaan Mozart dan Bethoven senada dengan getaran syaraf otak. Lantaran getarannya yang sama, musik klasik bisa merangsang syaraf otak untuk beraktivitas, dan ini membantu meningkatkan kecerdasan otak. &lt;br /&gt;Tak sampai disitu, sebuah riset terbaru di AS melaporkan memainkan musik klasik karya Mozart pada bayi prematur diyakini membantu menaikan berat tubuhnya. Hal itu disebabkan,bayi prematur hanya mengeluarkan sedikit energi ketika ditenangkan oleh alunan musik klasik.&lt;br /&gt;Sayangnya, musik klasik karya komposer lain macam Bethoven dan Bach dilaporkan tidak memperoleh hasil signifikan lantaran keduanya tidak memiliki kesamaan pada melodi repetitif (berulang) seperti yang dimiliki mozart.&lt;br /&gt;Dalam laporan itu, peneliti juga menyebutkan memainkan musik karya Mozart bisa mengurangi waktu yang dihabiskan bayi saat di rumah sakit, dan tentunya memghemat pengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, peneliti memainkan musik karya Mozart kepada bayi prematur selama 30 menit dan mengukur energi yang mereka gunakan, dan membandingkan dengan jumlah energi yang dikeluarkan saat bayi dalam kandungan. &lt;br /&gt;Usai mendengarkan musik, bayi yang baru lahir mengeluarkan sedikit energi, dan menyebabkan mereka mengalami kenaikan berat badan lebih cepat.&lt;br /&gt;Setelah berhasil dilahirkan, bayi begitu rentan terkena infeksi dan penyakit saat berada di rumah sakit, dan peneliti berkeyakinan berat badan bayi membantu mereka kebal terhadap masalah infeksi dan penyakit dikemudian hari.&lt;br /&gt;Dr Dror Mandel, anggota Proyek Internasional yang didukung konsorsium Newborn Individualized Developmental Care and Assessment Program (NIDCAP) mengatakan hasil riset yang diperoleh peneliti akan berdampak luas bagi penanganan bayi-bayi prematur.&lt;br /&gt;"Ini belumlah usai, bagaimana musik mempengaruhinya, tapi cukup menenangkan dan sedikit mengurangi rasa gelisah," tegasnya seperti diikuti Telegraph.co.uk, Ahad (10/1).&lt;br /&gt;"Melodi repetitif (berulang) pada mozart mungkin saja berpengaruh terhadap pusat syaraf yang berada di korteks otak," tambahnya.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Berthoven, Bach dan Bartok, kata dia, melodi repetitif begitu dominan pada karya Mozart. Meski begitu, dia menyarankan diperlukan riset yang lebih mendalam untuk hipotesis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-4087942021584443160?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/4087942021584443160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/02/musik-klasik-bantu-naikkan-berat-badan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4087942021584443160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4087942021584443160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/02/musik-klasik-bantu-naikkan-berat-badan.html' title='Musik Klasik Bantu Naikkan Berat Badan Bayi Prematur'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-5193160493043567088</id><published>2010-02-13T15:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T15:50:27.374-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Biarkan Anak-anak Bermain</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/S3c6pJR9wTI/AAAAAAAAAik/8sxS4FZGlhM/s1600-h/3156126372_f654274b12_o.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 205px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/S3c6pJR9wTI/AAAAAAAAAik/8sxS4FZGlhM/s320/3156126372_f654274b12_o.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437879553613480242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sekarang dihadapkan pada berbagai jenis kompetisi, mulai dari kontes idola sampai lomba melukis. Orangtua pun sibuk mengantar anaknya dari lomba ke lomba yang menjanjikan piala dan kebanggaan itu. Tetapi, apakah kompetisi semacam itu benar-benar dibutuhkan anak?  &lt;br /&gt;Psikolog dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Tjipto Susana, mengatakan, akhir-akhir ini memang banyak kontes talenta yang muncul di televisi. Orangtua yang ingin anaknya populer segera mendaftarkan mereka sebagai peserta. Kondisi semacam ini tidak lepas dari berjangkitnya budaya hidup instan di masyarakat. &lt;br /&gt;Menurut dia, kultur kolektif di Indonesia masih sangat kuat. Oleh karena itu, ada semacam pandangan bahwa kesuksesan anak menjadi cermin kesuksesan orangtua dan keluarga. Di tengah lingkungan yang semakin individualis, pandangan semacam itu bisa tidak mendukung perkembangan anak. &lt;br /&gt;Bercita-cita menjadi idola tentu tidaklah salah. Namun, orangtua mestinya tidak memaksa anaknya menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan dan keinginan anak. ”Anak-anak yang dipaksa seperti itu hidupnya tidak akan happy karena selamanya akan bergantung pada reward dari masyarakat yang sifatnya semu,” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kontes-kontes semacam itulah yang menjadi pangkal kegelisahan pelukis Yogyakarta, Yuswantoro Adi, dan teman-temannya. Saat diminta menjadi juri dalam sebuah lomba melukis, ia mendapati karya lukis anak-anak peserta lomba yang cenderung seragam. Awalnya itu tidak terasa mengganggu. Namun karena kecenderungan semacam itu ia temui dari lomba ke lomba, ia pun menaruh curiga. &lt;br /&gt;Setelah ditelusuri, ia menemukan jawabannya. Rupanya kini bermunculan sanggar lukis yang khusus mengajari anak-anak pemenang lomba. Orangtua yang ingin anaknya menjadi juara pun aktif memasukkan anaknya ke sanggar-sanggar semacam itu. &lt;br /&gt;”Karya anak-anak cenderung seragam karena selama di sanggar mereka diajari untuk melukis dengan gaya tertentu yang menurut sanggar itu paling bagus. Jadi standar lukisan anak yang bagus itu ditetapkan, anak tidak ditanyai lukisan yang bagus menurut mereka itu seperti apa,” kata Yuswantoro, pekan lalu. &lt;br /&gt;Buat Yus, kisah dari ajang lomba lukis itu bisa jadi hanya satu potongan kecil dari cerita besar tentang kondisi anak masa kini. Dan kenyataan itu membuatnya benar-benar khawatir. ”Memangnya nanti kalau sudah besar mereka pasti jadi pelukis? Mestinya anak-anak dibiarkan menjadi dirinya sendiri,” ucapnya. &lt;br /&gt;Sutradara teater Nano Asmorodono menambahkan, fenomena yang ditemukan dalam lomba seni lukis itu juga terjadi di banyak bidang lain. Orangtua kerap mendaftarkan anak-anaknya ikut lomba dan melakukan apa pun agar anaknya menang. Orangtua memaksakan kepentingannya sendiri terhadap anak sehingga kebutuhan anak justru tidak diperhatikan. &lt;br /&gt;Berangkat dari kegelisahan itulah, mereka lantas menggagas sebuah acara untuk anak. Jadilah acara itu Biennale Anak, sebuah ruang seni dan budaya khusus buat anak. Awalnya, acara khusus buat anak ini menjadi salah satu sesi dalam perhelatan seni rupa Biennale Jogja X yang berlangsung pada 11 Desember 2009-10 Januari 2010. Namun, padatnya acara selama Biennale untuk dewasa membuat sesi untuk anak akhirnya berlangsung terpisah. &lt;br /&gt;Keterlibatan anak &lt;br /&gt;Biennale Anak yang bertema ”Dokumenku” berlangsung pada 12-22 Januari di kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Demi anak, area TBY yang semula terkesan sangar oleh karya-karya perupa peserta Biennale untuk dewasa berubah menjadi lebih ceria dengan sentuhan karya anak-anak. Ada lukisan warna warni, gambar, grafiti, komik kolase, dan tentu saja boneka. &lt;br /&gt;Semua kegiatan melibatkan anak karena acara ini memang didedikasikan untuk anak. Panitia hanya fasilitator. Sebanyak 283 anak berusia 4-18 tahun terlibat dalam acara ini. Mereka tidak hanya datang sebagai penikmat, tetapi juga pelaku. ”Ini adalah ruang bermain. Jadi tujuannya memang agar anak-anak bermain di sini,” ujar Yuswantoro. &lt;br /&gt;Di ruang pameran TBY, misalnya, pengunjung bisa menyaksikan karya anak berupa lukisan, komik kolase, serta boneka. Karya-karya tersebut dihasilkan oleh anak-anak yang mengikuti pelatihan seni dua bulan sebelumnya. Salah satunya adalah Cinde Gaharu (7), yang memamerkan karyanya berupa boneka perempuan dari kertas. Karya itu juga menjadi gambar dalam spanduk berukuran besar yang dipasang di kompleks TBY. ”Saya membuat boneka karena suka sama boneka. Yang mengajari Pak Bagong (pelatih workshop boneka),” ujarnya. &lt;br /&gt;Jika kurang berminat pada lukisan, mereka bisa bermain musik, menari, menyanyi, menjadi pemandu acara (MC), atau sekadar datang dan bermain. Mereka bisa menonton pertunjukan wayang kancil oleh dalang Ki Ledjar Subroto, film anak karya Garin Nugroho, serta pentas seni anak-anak. Selain itu, mereka bisa menjadi peserta pelatihan membuat celup ikat, bermain dengan clay, melukis layang-layang serta membuat boneka dari perca. &lt;br /&gt;Minat &lt;br /&gt;Selama berada di arena Biennale Anak, peran orangtua terbatas pada mengantar dan mengawasi anak-anak mereka. Rimon Siregar dan Rumila, misalnya, berpendapat bahwa acara semacam ini sangat positif bagi anak. Oleh karena itu, mereka tidak keberatan mengantar Joan Siregar, anak mereka yang baru duduk di kelas dua SD, ke Biennale Anak. ”Di sekolah anak saya ikut ekstra menggambar. Karyanya juga dipamerkan dalam acara ini. Asal anak memang berminat, kami pasti mendukung,” kata Rimon yang tinggal di Sleman. &lt;br /&gt;Faktor minat jugalah yang membuat Beta Uliansyah rajin mengantar anaknya, Abas Uliansyah (5), setiap sore ke arena Biennale Anak. Sepanjang acara, banyak kegiatan yang dinilainya bisa mendukung pendidikan anaknya yang belajar dengan sistem homeschooling. ”Anak saya punya metode belajar yang berbeda dengan kebanyakan anak lain sehingga saya enggak tega memasukkan dia ke sekolah umum. Jadi kami harus rajin mencari kegiatan alternatif sehingga bisa mendukung proses belajarnya. Dan ternyata di sini dia sangat menikmati, mulai dari kegiatan membuat layang-layang, nonton wayang kancil, sampai main di Pasar DolDolanan,” ujarnya. &lt;br /&gt;Menurut psikolog Tjipto Susana, orangtua bisa mengenali bakat anaknya dengan terlebih dahulu melupakan tren yang sedang berlaku. ”Tren membuat orangtua tidak sensitif terhadap bakat anak. Kalau orangtua sudah tidak peduli tren, baru dia bisa melihat minat anaknya dan dalam bidang apa anak itu bisa belajar dengan cepat. Sesuatu yang bisa dipelajari dengan cepat biasanya memang diminati anak. Kalau sudah ketemu, bakat itulah yang perlu dikembangkan tanpa melupakan pelajaran lainnya,” tuturnya. &lt;br /&gt;Maka, biarkan anak-anak bermain. Mereka bisa bermain-main menjadi pelukis, pembuat boneka, penyanyi, penari, wali kota, apa saja.... &lt;br /&gt;Oleh Idha Saraswati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-5193160493043567088?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/5193160493043567088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/02/biarkan-anak-anak-bermain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5193160493043567088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5193160493043567088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/02/biarkan-anak-anak-bermain.html' title='Biarkan Anak-anak Bermain'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/S3c6pJR9wTI/AAAAAAAAAik/8sxS4FZGlhM/s72-c/3156126372_f654274b12_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-1680855896579634512</id><published>2010-01-06T14:13:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T14:14:46.808-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Mengulang-ulang Bikin Anak Pintar</title><content type='html'>Memang, kalau dilihat dan diamati, lucu juga perilaku mengulang-ulang di usia batita ini. Tidak jarang kita dibuat tertawa olehnya tetapi sering pula kita menjadi kesal karenanya. "Kalau keseringan dan terus-menerus, bete juga menanggapinya apalagi meladeninya. Bayangkan saja, masa setiap si kecil mau tidur saya harus membacakan dongeng si kancil yang sama. Sudah 3 bulan, lho," cerita seorang ayah dengan nada gemas.&lt;br /&gt;Menanggapi kebiasaan di usia batita itu, Ceti Prameswari Psi., dari LPT UI ikut urun rembug memberikan pandangan dari sudut keahliannya sebagai psikolog. Menurutnya, orangtua harus paham bahwa di usia batita, anak sedang mengalami masa eksplorasi. "Ia tengah mendengar dan melihat hal-hal baru yang selama ini belum masuk ke perbendaharaan wawasannya. Sesuatu yang baru ini akan menjadi daya tarik baginya. Nah, mengulang-ulang sesuatu merupakan salah satu cara bagi anak usia batita dalam menunjukkan minat atau ketertarikannya pada hal tersebut," ungkap Ceti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa ini menurutnya merupakan momen yang baik untuk memberikan pengalaman yang beragam kepada si batita. Sebab itulah Ceti menyarankan kepada kita semua untuk tidak membatasi minat anak pada sesuatu hal. "Pahami saja perilaku mengulang anak sebagai bagian dari cara dia mempelajari hal-hal baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceti mengerti, orangtua mungkin akan merasa bosan dengan apa yang diulang-ulang oleh anaknya itu, bahkan tak jarang orangtua yang merasa terganggu. "Tapi ingat apa yang kita simpulkan tersebut adalah buah pikir orang dewasa, bukan anak. Anak berpikir dan melihat dunianya dengan cara yang berbeda dari kita orang dewasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengulang-ulang seperti itu, sejatinya anak belum cukup paham dan puas mencari apa yang ingin diketahuinya. Lama-lama, seperti halnya orang dewasa, dengan mengulang-ulang dia akan mampu memahami dan bisa memenuhi rasa ingin tahunya," Ceti menambahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas kita sebagai orang dewasa adalah mendampingi anak dan memberikan kesempatan bereksplorasi seluas-luasnya. Jangan halang-halangi anak untuk mengulang-ulang sesuatu yang disukainya. Orangtua justru harus memberikan waktu dan memenuhi keinginan anak jika ia ingin mengulang sesuatu. Sebab dengan begitu dia belajar sesuatu hal yang baru dan penting baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya pengetahuan, perilaku menglang juga membuat anak terampil. Contoh, karena sering minta diputarkan film favoritnya, anak jadi tahu tahapan memutar DVD di komputer atau DVD player. Saat yang kesekian kalinya, dia bisa saja sudah tidak perlu pertolongan orang dewasa karena mampu menyalakan dan memutar sendiri film yang ia mau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain meniru apa yang dilihatnya, pengulangan juga membuat anak mampu meniru apa yang didengarnya. Hal ini sangat membantu perkembangan kemampuan berbahasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Batas&lt;br /&gt;Namun, Ceti menambahkan keterangannya, anak yang terlalu fokus mengulang-ulang hal yang sama akan kurang baik hasilnya. Orangtua perlu memberikan pengalaman baru yang dapat membuka wawasan anak terhadap banyak hal. Jika si kecil sudah terlalu sering minta didongengi cerita Kancil, misalnya, pancinglah minatnya untuk menikmati cerita lain yang bermanfaat dalam membuka wawasannya. Lihatlah reaksinya dan tanyakan pendapatnya; apakah ia suka atau tidak, mengapa ia suka atau tidak suka, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini penting, karena menurut Ceti, orangtua perlu mengetahui bagaimana anak memaknai hal-hal baru yang dilihat/didengarnya. "Jika ada pemahaman anak yang keliru, kita bisa segera mengoreksinya. Misalnya, kalau anak minta diputarkan film Transformers setiap hari selama seminggu, kita perlu menggali sebetulnya apa sih yang menarik dari film tersebut. Apakah bentuk robot-robotnya, relasi robot-robot Transformers dengan manusia, atau yang lainnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat memberikan masukan yang tepat kepada anak, orangtua harus ikut menyelami apa yang sedang dieksplorasi anak. Bijaklah menghadapi perilaku mengulang-ulang si batita jika tujuannya untuk mencuri perhatian. Biarpun bikin kesal, anak merasa ulahnya berhasil membuatnya diperhatikan. "Bunda kan sibuk terus, aku minta diputarkan lagu kemarin saja, deh yang tidak disukai Bunda." Jika si Bunda terpancing dan akhirnya mengomel, berarti si batita berhasil mendapatkan perhatian meski dalam situasi yang tidak menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceti menganjurkan agar sabar dan tidak cepat kesal menghadapi si kecil yang senang mengulang-ulang apa pun seolah tak ada bosannya. Justru artinya, ia sedang belajar. Jadi saat mendampinginya, tidak ada cara yang paling tepat selain meladeni, memfasilitasi, dan memberikan pengalaman-pengalaman baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gazali Solahuddin/Tabloid Nakita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-1680855896579634512?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/1680855896579634512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/01/mengulang-ulang-bikin-anak-pintar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1680855896579634512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1680855896579634512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2010/01/mengulang-ulang-bikin-anak-pintar.html' title='Mengulang-ulang Bikin Anak Pintar'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-3282796177980371267</id><published>2009-11-25T13:41:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T13:43:20.326-08:00</updated><title type='text'>Bayi Menangis dalam Bahasa Ibu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sw2k8CRSy5I/AAAAAAAAAhs/_wcEDyV8UfU/s1600/885395-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 216px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sw2k8CRSy5I/AAAAAAAAAhs/_wcEDyV8UfU/s320/885395-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408160078850345874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meski suara tangis bayi di seluruh dunia terdengar sama saja, ternyata suara tangis bayi memiliki pola melodi yang berbeda, menyesuaikan dengan melodi suara bahasa ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan, bayi Perancis yang baru lahir cenderung menangis dalam pola melodi yang makin lama makin kencang, sementara suara tangis bayi Jerman cenderung dalam melodi menurun. Hal ini konsisten dengan perbedaan cara bicara orang dari dua negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam risetnya para ahli merekam dan menganalisa suara tangis 60 bayi baru lahir saat mereka berusia 3-5 hari. Bayi-bayi ini berasal dari orangtua yang berbahasa Perancis dan orangtua berbahasa Jerman. Ternyata bayi ini memiliki melodi suara tangis yang mirip dengan bahasa orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu para orangtua disarankan untuk berinteraksi dengan anak sejak dalam kandungan, jauh sebelum anak bisa mengeluarkan celoteh (babble).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penelitian juga menunjukkan interaksi dan komunikasi yang dilakukan ibu pada bayi sejak dalam kandungan akan memengaruhi kemampuannya berbahasa kelak. Studi lain juga membuktikan bayi baru lahir sudah mampu mengenali suara ibunya sejak dilahirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, para ahli mengingatkan agar orangtua tidak terlalu berlebihan dalam mengajarkan anak kemampuan berbahasa. Meski bayi tiga bulan sudah mampu menangkap suara vokal yang dibuat orang dewasa, namun kemampuan mereka tergantung pada kontrol vokalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua bisa mengajak bayi berkomunikasi dalam bahasa sederhana dan diucapkan dengan kalimat yang lembut dan penuh kasih sayang. Belaian dan pelukan hangat setelah bayi lahir juga efektif membangun kelekatan dengan ayah ibunya dan mendukung anak untuk belajar berinteraksi dengan orang lain secara spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AN&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-3282796177980371267?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/3282796177980371267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/11/bayi-menangis-dalam-bahasa-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3282796177980371267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3282796177980371267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/11/bayi-menangis-dalam-bahasa-ibu.html' title='Bayi Menangis dalam Bahasa Ibu'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sw2k8CRSy5I/AAAAAAAAAhs/_wcEDyV8UfU/s72-c/885395-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-7053582884607844147</id><published>2009-10-31T13:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T13:47:54.349-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='orang Tua Super'/><title type='text'>Anak Berbakat yang Sulit Belajar, Ini Stimulasinya</title><content type='html'>JAKARTA, KOMPAS.com — Anak atau siswa yang bakatnya tertutupi oleh kesulitan belajar ternyata banyak dipengaruhi oleh lingkungan teman sebaya, pola asuh dalam keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan harapan orangtua akan masa depan si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah memang, tetapi ada solusi yang sepatutnya bisa dilakukan. Beberapa solusi ada setelah orangtua dan pendidik memahami adanya perbedaan antara bakat dan ketidakmampuan anak/siswa didiknya, serta mengenali ciri-ciri potensi diagnosis yang salah tersebut. Hal itu merupakan langkah-langkah sederhana sebagai stimulasi menghadapi anak-anak dengan kemampuan otak berbakat (gifted brain), tetapi sekaligus juga menunjukkan ketidakmampuannya (disability).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesuatu yang ada di dalam diri seorang anak, itulah yang perlu dikeluarkan, yang semestinya diekspresikan," kata Socrates. Namun kiranya, ucapan filsuf Yunani tersebut perlu dijadikan pegangan sebelum memulai langkah-langkah yang perlu diambil di sini. Ada lima langkah yang justru akan berpulang pada kondisi si anak itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang, stimulasi yang diperlukan adalah langkah-langkah yang cenderung tidak bersifat memaksakan kehendak. Hal ini seperti pernah disebutkan oleh psikolog Dr Rose Mini AP, M Psi dalam makalahnya tentang "Keberhasilan Pendidikan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya", beberapa stimulasi tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan pernah membandingkan antara satu anak dengan yang lainnya. Camkan bahwa setiap anak berbeda, baik dari segi kecepatan belajar, gaya belajar, maupun pencapaian hasil atau lain-lain yang berhubungan dengan proses anak menyerap ilmu atau pelajaran yang diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rangsang, bukan "ajarkan", anak untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan, terutama kreativitasnya. Persepsikan bahwa sekecil apa pun kreativitasnya adalah hal yang sangat positif, baik buat dirinya maupun lingkungan di sekitarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tularkan tentang pemahaman-pemahaman moral dan indahnya bersosialisasi di luar lingkup sehari-hari si anak. Ingat, Anda hanya "menularkan", bukan mengajarinya bersosialisasi, saling menghargai, atau menghormati sesama individu. Alhasil, aksi nyata berupa contoh-contoh sikap dan perilaku sangat diperlukan, dan itu semua harus dimulai dari diri Anda sebagai orangtua atau pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Fokuskan pada proses dan penugasan ketimbang perolehan hasil. Perlu diingat, bahwa hasil yang optimal akan dicapai oleh si anak saat mereka menguasai kemampuan yang memang dibutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kenali berbagai kebutuhan mereka tersebut lewat aktivitas, hobi, atau kegemarannya. Dari sinilah orangtua atau pendidik mudah mengenali potensi yang dimiliki guna melihat perkembangan yang lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-7053582884607844147?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/7053582884607844147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/10/anak-berbakat-yang-sulit-belajar-ini.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/7053582884607844147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/7053582884607844147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/10/anak-berbakat-yang-sulit-belajar-ini.html' title='Anak Berbakat yang Sulit Belajar, Ini Stimulasinya'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-3268617215520377903</id><published>2009-09-20T15:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-20T15:55:45.656-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Meramal Kesehatan Si Sulung</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Kondisi kesehatan setiap anak berbeda-beda, meskipun mereka kakak beradik. Bisa jadi, si sulung gampang batuk, si tengah rentan stres, tapi si bungsu jarang jatuh sakit. Nah, tak sedikit penelitian atau riset dilakukan untuk meneropong risiko penyakit seseorang berdasarkan posisi urutan kelahirannya dalam keluarga. Berikut beberapa penelitian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak Sulung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;em&gt;Science&lt;/em&gt; dalam studi terbarunya menunjukkan fakta, skor tes IQ anak sulung cenderung lebih tinggi ketimbang adik-adiknya. Secara angka, didapati skor si sulung 3 angka lebih tinggi ketimbang si tengah, bungsu dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset ini secara tak langsung didukung pula studi yang diselenggarakan University of Glasgow, yang menyatakan tingginya kecerdasan dan tingkat kesehatan berjalan seiring. Disebutkan pula, si sulung yang notabene skor tes IQ-nya lebih tinggi, rendah kemungkinan mengalami penyakit jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penelitian lain juga menyebutkan, anak sulung relatif rentan terhadap alergi, asma, dan eksim. Salah satu alasan yang dipaparkan, karena si sulung termasuk anak yang kelewat "dilindungi", kurang diberi kekebasan bereksplorasi karena orangtua takut ia akan jatuh dan terluka. Alhasil, lantaran kurang berakrab diri dengan berbagai bakteri atau virus, daya tahan atau imunitas tubuhnya pun terbilang rendah.&lt;br /&gt;Berbeda dengan adik-adik, entah itu si tengah atau si bungsu, yang biasanya lebih banyak diberi kekebasan mengeskplorasi alam karena orangtua sudah berpengalaman mengasuh anak pertama. Alhasil, daya tahan tubuh anak kedua dan selanjutnya biasanya lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan riset yang menyebutkan bahwa si sulung rentan alergi, Amal Assa'ad, MD, Profesor alergi dan imunitas dari Cincinnati Children's Hospital Medical center, menyebutkan, karena rentan alergi maka si sulung beresiko pula mengalami infeksi sinus kronis. Nah, kebanyakan infeksi sinus kronis ini menimbulkan gejala bersin-bersin dan hidung terasa gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian lainnya, studi dari Karolinska Institute Stockholm menyatakan, anak sulung laki-laki sangat berisiko mengalami kanker testis. Kenapa begitu? Sebab, kadar estrogen yang diterima si sulung saat di kandungan lebih tinggi dibanding adik-adiknya. Kasus ini memang relatif langka, akan tetapi tetap mesh diwaspadai karena bisa terjadi ketika usia remaja. Kendala ini sebenarnya bisa ditangani bila ditemukan pada stadium awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;em&gt;American Cancer Society&lt;/em&gt;, bila keluarga dari suami punya riwayat penyakit ini, si sulung disarankan untuk menjalani pemeriksaan tiap bulan guna mendeteksi munculnya kanker testis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-3268617215520377903?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/3268617215520377903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/09/meramal-kesehatan-si-sulung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3268617215520377903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/3268617215520377903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/09/meramal-kesehatan-si-sulung.html' title='Meramal Kesehatan Si Sulung'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-6665020102771033336</id><published>2009-08-23T14:56:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T15:03:41.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Menghadapi Ledakan Emosi Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SpG8rY9zHlI/AAAAAAAAAf8/FY2Igt51bA8/s1600-h/eb6025-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 299px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SpG8rY9zHlI/AAAAAAAAAf8/FY2Igt51bA8/s320/eb6025-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373283284051762770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.&lt;br /&gt;Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.&lt;br /&gt;Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?&lt;br /&gt;Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.&lt;br /&gt;Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.&lt;br /&gt;Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.&lt;br /&gt;Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.&lt;br /&gt;Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.&lt;br /&gt;Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan&lt;br /&gt;Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:&lt;br /&gt;• Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.&lt;br /&gt;• Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.&lt;br /&gt;• Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.&lt;br /&gt;• Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.&lt;br /&gt;• Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.&lt;br /&gt;• Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.&lt;br /&gt;• Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.&lt;br /&gt;Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.&lt;br /&gt;Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan&lt;br /&gt;Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.&lt;br /&gt;Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.&lt;br /&gt;Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.&lt;br /&gt;Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.&lt;br /&gt;Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.&lt;br /&gt;Setelah Badai Kemarahan&lt;br /&gt;Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.&lt;br /&gt;Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sumber : www.sekolahorangtua.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-6665020102771033336?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/6665020102771033336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/08/menghadapi-ledakan-emosi-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6665020102771033336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6665020102771033336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/08/menghadapi-ledakan-emosi-anak.html' title='Menghadapi Ledakan Emosi Anak'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SpG8rY9zHlI/AAAAAAAAAf8/FY2Igt51bA8/s72-c/eb6025-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-8989482399911980226</id><published>2009-08-15T17:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T17:30:19.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>PENYEBAB KESULITAN MAKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SodTCD3kcjI/AAAAAAAAAe8/XvtOKa_CUX0/s1600-h/BDG50104.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SodTCD3kcjI/AAAAAAAAAe8/XvtOKa_CUX0/s320/BDG50104.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370352375525831218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penyebab  kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.&lt;br /&gt;Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi  lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GANGGUAN NAFSU MAKAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan nafsu makan tampaknya merupakan penyebab utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan). Tampilan gangguan nafsu makan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa,  waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan hanya sedikit atau mengeluarkan,  menyembur-nyemburkan makanan atau menahan makanan  di mulut terlalu lama. Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya, menepis suapan orang tua atau tidak mau makan dan minum sama sekali.&lt;br /&gt;Gangguan nafsu makan ini sering diakIbatkan karena gangguan saluran cerna, penyakit infeksi akut atau kronis (TBC, cacing, dll), alergi makanan, intoleransi makanan dan sebaginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang  menunjukkan adanya gangguan pencernaan adalah perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah. Sering nyeri perut sesasaat, bersifat  hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (&gt;2 kali/perhari). Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat  (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah. Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau&lt;br /&gt;Biasanya disertai gangguan kulit : timbal bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya dan sebagainya.&lt;br /&gt;Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa oleh orang tua  bahkan banyak dokter atau klinisi karena sering terjadi pada anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang mungkin berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GANGGUAN PROSES MAKAN DI MULUT&lt;br /&gt;           Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan. Ketrampilan dan kemampuan sistem pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperanan alam proses makan tersebut. Pergerakan morik tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di sekitar mulut. Gangguan motorik mulut ini juga sering disertai oleh  gangguan tergigit sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak sengaja. Gangguan proses makan ini sering terjadi pada penderita gangguan saluran pencernaan seperti sering muntah, nyeri perut dan mual. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan teori ”Gut Brain Axis”. Gangguan saluran cerna ternyata dapat mengganggu susunan saraf pusat termasuk gangguan motorik kasar mulut.&lt;br /&gt;Gerakan motorik kasar di sekitar mulut tersebut sangat dipengaruhi oleh susunan saraf pusat. Gangguan susunan saraf pusat tersebut dapat mulai dari yang ringan hingga yang berat.    Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi, gangguan neurologis, penderita Autism, ADHD, ADD, dan gangguan perilaku lainnya.&lt;br /&gt;Gangguan motorik proses makan ini biasanya disertai oleh gangguan motorik kasar lainnya seperti terlambat bolak-balik (normal usia 4 bulan), terlambat duduk merangkak (normal 6-8 bulan), jalan jinjit, duduk bersimpuh leter “W”, terlambat berjalan, sering jatuh atau menabrak. Ciri lainnya biasanya disertai gejala anak tidak bisa diam, mulai dari overaktif hingga hiperaktif.&lt;br /&gt;Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.Diantaranya adalah kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar, tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring,  tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.&lt;br /&gt;Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis.. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan perilaku dan perkembangan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GANGGUAN PSIKOLOGIS&lt;br /&gt;           Gangguan psikologis  dahulu dianggap sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak. Tampaknya hal ini terjadi karena dahulu kalau kita kesulitan dalam menemukan penyebab kesulitan makan pada anak maka gangguan psikologis dianggap sebagai diagnosis keranjang sampah untuk mencari penyebab kesulitan makan pada anak. Untuk memastikan gangguan psikologis sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak harus dipastikan tidak adanya kelainan organik pada anak.&lt;br /&gt;Gangguan pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu waktunya bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. Bila faktor psikologis tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik. Untuk memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari dekat dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau psikolog.&lt;br /&gt;Pakar psikologis menyebutkan sebab meliputi gangguan sikap negatifisme, menarik perhatian, ketidak bahagian atau perasaan lain pada anak, kebiasaan rewel pada anak digunakan sebagai upaya untuk mendapatkan yang  sangat diinginkannya, sedang tertarik permainan atau benda lainya, meniru pola makan orang tua atau saudaranya reaksi anak yang manja.&lt;br /&gt;Beberapa aspek psikologis dalam hubungan keluarga, baik antara anak dengan orang tua, antara ayah dan ibu atau hubungan antara anggota keluarga lainnya dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya bila hubungan antara orang tua yang tidak harmonis, hubungan antara anggota keluarga lainnya tidak baik  atau suasana keluarga yang penuh pertentangan, permusuhan atau emosi yang tinggi akan mengakibatkan anak mengalami ketakutan, kecemasan, tidak bahagia, sedih atau depresi. Hal itu mengakibatkan anak tidak aman dan nyaman sehingga bisa membuat anak menarik diri dari kegiatan atau lingkungan keluarga termasuk aktifitas makannya&lt;br /&gt;Sikap orang tua dalam hubungannya dengan anak sangat menentukan untuk terjadinya gangguan psikologis yang dapat mengakibatkan gangguan makan. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah :  perlindungan dan perhatian berlebihan  pada anak, orang tua yang pemarah, stress dan tegang terus menerus, kurangnya kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, urangnya pengertian dan pemahaman orang tua terhadap kondisi psikologis anak, hubungan antara orang tua yang tidak harmonis, sering ada pertengkaran dan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dr Widodo Judarwanto SpA Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-8989482399911980226?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/8989482399911980226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/08/penyebab-kesulitan-makan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8989482399911980226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8989482399911980226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/08/penyebab-kesulitan-makan.html' title='PENYEBAB KESULITAN MAKAN'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SodTCD3kcjI/AAAAAAAAAe8/XvtOKa_CUX0/s72-c/BDG50104.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-1710937713044442076</id><published>2009-06-27T18:33:00.000-07:00</published><updated>2009-06-27T18:37:12.212-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SkbJOnyTd5I/AAAAAAAAAec/ROvRXdBSzEQ/s1600-h/bb6842-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 172px; height: 115px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SkbJOnyTd5I/AAAAAAAAAec/ROvRXdBSzEQ/s320/bb6842-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352186460211738514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Usia si kecil sudah 2 tahun sehingga Anda merasa sudah saatnya melaksanakan toilet training (latihan menggunakan kamar mandi untuk buang air). Sejak diajarkan untuk buang air kecil di kamar mandi, anak memang sudah tidak menggunakan diapers dari pagi hingga sore hari karena ia sudah bisa menyampaikan kepada Anda bahwa ia ingin pipis. Kemampuannya mengontrol keinginan buang air pun cukup baik. Sayangnya, pada malam hari, si kecil masih mau memakai diapers. Mungkin karena minumnya banyak, dan selain itu Anda juga tidak ingin repot bangun tengah malam untuk menggotong si kecil ke kamar mandi. Gagallah toilet training yang Anda terapkan.&lt;br /&gt;Mungkin, banyak ibu lain yang memiliki keluhan sama seputar kegagalan mereka menerapkan toilet training. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Berikut penjelasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Terlalu awal memulai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, toilet training dimulai ketika anak telah memasuki usia 2 tahun. Bila Anda terburu-buru memulai sebelum waktunya, maka boleh jadi kegagalan yang didapat. Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama dan berat sekali saat harus melaksanakan program tersebut. Anda perlu mengamati tanda-tanda kesiapannya, baik secara fisik, kognitif, maupun perilaku. Tanda-tanda tersebut biasanya sudah terlihat ketika anak memasuki usia 18 bulan sampai 2 tahun. Bahkan, sebagian ada yang baru menunjukkan tanda-tanda ketika memasuki usia 4 tahun. Patut diingat, anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda, tidak bisa disamaratakan. Jadi, jangan kecewa bila mendapati keponakan, anak teman atau tetangga dapat lebih awal memiliki kemampuan mengontrol buang air dibandingkan anak sendiri.&lt;br /&gt;Sedikitnya, untuk menerapkan toilet training dibutuhkan waktu 3 bulan. Dituntut kesabaran dan sportivitas bila Anda gagal menerapkan dalam waktu di atas itu. Ini dapat dijadikan pertanda bahwa anak Anda belum siap. Tunggulah beberapa minggu dan mulailah untuk mencoba kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Memulai di waktu yang tidak tepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hindari memulai toilet training pada saat yang tidak tepat, seperti seminggu sebelum kelahiran adik bayi, baru ganti pengasuh, pindah rumah, atau hal-hal yang berkaitan dengan rutinitas anak. Prasekolah biasanya memiliki rutinitas tertentu dalam kesehariannya. Ketika terjadi perubahan, maka si prasekolah butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru tersebut. Untuk itu, hindari melakukan toilet training pada waktu-waktu tersebut. Tunggulah sampai anak dapat beradaptasi sebelum toilet training dimulai.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Jangan pernah memaksa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika si kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan dan tertarik untuk memulai toilet training, jangan paksa ia untuk segera melaksanakan secepat mungkin. Bisa-bisa si anak malah mengalami stres yang ditandai dengan tidak bisa buang air besar (konstipasi). Untuk itu, biarkan si kecil mengikuti iramanya, dan menjalani program toilet training setahap demi setahap. Tindakan paling bijaksana adalah tetap memberikan motivasi. Namun, ketika anak mogok, jangan sekali-sekali dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Hindari sekadar ikut-ikutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan terpengaruh cerita kenalan atau saudara tentang keberhasilan  program toilet training yang diterapkan pada anaknya. Setiap anak adalah unik. Tidak mungkin menyamaratakan perkembangan semua anak sehingga memukul rata usia tepat melakukan toilet training. Langkah paling bijaksana adalah menunggu kesiapan anak. Sampaikan saja kepada kenalan, teman, atau saudara, “Kami telah memiliki rencana sendiri tentang program toilet training.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Hindari memberikan hukuman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali memberikan hukuman kepada si prasekolah ketika gagal melakukan toilet training. Bisa jadi hukuman yang diberikan terasa memberatkan dan membuatnya trauma. Akibatnya, anak tidak mau memulai kembali toilet training karena teringat akan hukuman yang diberikan. Harus diingat, setiap anak berbeda sehingga dituntut kesabaran dan kecermatan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Tidak konsisten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika memutuskan untuk melaksanakan toilet training hendaknya orangtua mampu bersikap konsisten. Laksanakan latihan itu saat siang dan malam hari. Memang, tidak bisa langsung serentak, tapi diawali dengan kesuksesan melaksanakan di siang hari, lalu dilanjutkan pada malam hari. Dituntut ketegasan dan kerelaan orangtua untuk membangunkan anak untuk BAK di kamar mandi, atau sekadar menggunakan potty training di kamar tidur.&lt;br /&gt;(Utami Sri Rahayu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-1710937713044442076?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/1710937713044442076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/06/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1710937713044442076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1710937713044442076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/06/si-kecil-ogah-belajar-pipis-di-toilet.html' title='Si Kecil Ogah Belajar Pipis di Toilet'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SkbJOnyTd5I/AAAAAAAAAec/ROvRXdBSzEQ/s72-c/bb6842-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-1710621541543232376</id><published>2009-06-21T16:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T16:41:19.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Ciri-Ciri Anak Berbakat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sj7E6GfQhwI/AAAAAAAAAeM/nHN8njG_4Y4/s1600-h/ar6902-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 217px; height: 223px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sj7E6GfQhwI/AAAAAAAAAeM/nHN8njG_4Y4/s320/ar6902-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349929909815904002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Prof. Utami Munandar menuliskan indikator keberbakatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;* Ciri-ciri Intelektual/Belajar: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang berbagai topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi.&lt;br /&gt;Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;* Ciri-ciri Kreativitas: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;* Ciri-ciri Motivasi: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya).&lt;br /&gt;Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;Indah Mulatsih&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-1710621541543232376?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/1710621541543232376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/06/ciri-ciri-anak-berbakat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1710621541543232376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1710621541543232376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/06/ciri-ciri-anak-berbakat.html' title='Ciri-Ciri Anak Berbakat'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sj7E6GfQhwI/AAAAAAAAAeM/nHN8njG_4Y4/s72-c/ar6902-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-8128540272554562197</id><published>2009-06-18T15:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T15:56:23.411-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Bayi Belajar Bicara di dalam Rahim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SjrF90lv1FI/AAAAAAAAAds/CM7kYZgnglw/s1600-h/bc8676-003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 140px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SjrF90lv1FI/AAAAAAAAAds/CM7kYZgnglw/s320/bc8676-003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348805173335544914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selama bayi di dalam rahim, ajaklah ia berbicara. Dengan aktif mengajaknya berbicara, bayi tidak hanya mengenali suara ibu tapi juga mempelajari bahasa yang kita gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan itu didapat pada penelitian Effects of Experience on Fetal Voice Recoqnition yang memainkan rekaman puisi China selama 2 menit, terhadap 60 perempuan hamil. Selama rekaman diputar, detak jantung bayi yang masih di dalam rahim juga dipantau untuk melihat bagaimana bayi bereaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bayi mendengar suara ibunya, ritme jantungnya sangat aktif. Sedangkan ketika rekaman puisi dengan suara orang lain diputar, ritme jantung melambat. Para peneliti mengartikan ritme jantung sebagai reaksi bayi terhadap apa yang mereka dengar.&lt;br /&gt;Ketika ritmenya menjadi aktif, bayi memberikan perhatian penuh terhadap kata-kata ibu. Kata-kata ini kemudian dipelajari untuk kemudian direkam dalam memori mereka sebagai kemampuan dasar untuk berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, nikmati proses mengandung dengan aktif mengajak bayi berbicara. Tapi pilihlah cara berbicara yang bersahabat agar tersimpan dalam memori anak, indahnya ketika berinteraksi dengan orang tuanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Siagian Priska)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Prevention Indonesia&lt;br /&gt;www.kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-8128540272554562197?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/8128540272554562197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/06/bayi-belajar-bicara-di-dalam-rahim.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8128540272554562197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8128540272554562197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/06/bayi-belajar-bicara-di-dalam-rahim.html' title='Bayi Belajar Bicara di dalam Rahim'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SjrF90lv1FI/AAAAAAAAAds/CM7kYZgnglw/s72-c/bc8676-003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-5789955563210097470</id><published>2009-05-29T14:16:00.001-07:00</published><updated>2009-05-29T14:31:16.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Persepsi Orangtua Menentukan Masa Depan Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SiBT5XLTxmI/AAAAAAAAAck/R3R4UTnfFbI/s1600-h/bc7861-002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 321px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SiBT5XLTxmI/AAAAAAAAAck/R3R4UTnfFbI/s320/bc7861-002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341361403000505954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deni kecil berlari-lari menolak makanan yang hendak disuapkan ke mulutnya. Mamanya mengejar di belakangnya sambil berteriak,"Deni ayo makan ini sudah malam lho. Kamu nanti lapar. Mama masih banyak kerjaan yang lain nih!" Dari nadanya bisa tergambar perasaan putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Perasaan jengkel, marah, letih dan tak berdaya tercermin dalam tindakan dan perkataan sang mama. Si Deni dengan acuhnya berlarian kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian datanglah Ferry, kakak Deni, yang sudah duduk di bangku SMP. Sambil melemparkan tasnya ke sofa ia menuju lemari es dan meneguk minuman yang ada di sana. Setelah itu ia melepas sepatu dan kaos kakinya dan membiarkannya tergeletak begitu saja di depan lemari es. Lalu menuju ke kamarnya dan berteriak, "Mbak ambilkan makan dong. Lapar nih!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda yang menghadapi peristiwa di atas apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan langsung menghardik mereka? Atau apakah anda akan memukul mereka karena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah lakunya? Ataukah anda akan langsung memanggilnya dan memarahi mereka? Atau mungkin anda akan bertanya dengan lembut pada mereka apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka dan kemudian membantu mereka mencari solusinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu penting apa tindakan anda. Yang paling penting di sini adalah mencari tahu apa penyebab utama anda melakukan tindakan tersebut. Tidak penting apakah anda marah atau menanyainya dengan lembut. Yang penting adalah pemikiran dibalik tindakan tersebut. Inilah yang mengontrol diri anda selama ini. Pemikiran inilah yang melatarbelakangi tindakan anda mendidik dan mengasuh anak-anak. Kita menyebutnya dengan persepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimanakah persepsi timbul? Persepsi timbul dari serangkaian pemikiran-pemikiran yang mengkristal. Pemikiran ini timbul dari beragam pengalaman yang mengesankan. Semua pengalaman kita di masa kecil akan menjadi pijakan dasar. Dari sinilah kita kemudian mengembangkan pemikiran yang lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman bagaimanakah yang akan membentuk pemikiran? Semua pengalaman yang kita alami dalam kehidupan kita. Apa yang kita dengar, apa yang kita lihat dan apa yang kita alami di masa kecil akan mempengaruhi pemikiran kita. Pemikiran awal ini kemudian kita bawa dalam pergaulan remaja dan dewasa. Dan akhirnya menjadikan kita seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mempunyai anak maka kita akan beroperasi dengan pemikiran yang sudah melekat dalam diri kita. Pemikiran inilah yang menjadi dasar setiap tindakan kita. Pemikiran ini menjadi persepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang kebanyakan orang tidak sadari adalah persepsi ini bisa mengunci pemikiran kita. Persepsi ini menjadi koridor pemikiran kita. Ia memerangkap kita di dalamnya. Sebaik-baiknya kemampuan berpikir kita jika persepsi awalnya salah maka tidak akan menemui jawaban yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh seorang anak yang sedang disuapi makan berlarian kesana kemari. Jika persepsi awal kita mengatakan bahwa anak ini nakal, makannya rewel, tidak menghargai waktu saya dan berbagai persepsi awal negatif lainnya maka tindakan kita akan negatif juga. Marah misalnya. Atau mengatakan sesuatu yang nadanya jengkel, misal "Ayo cepat! Mama kan masih ada pekerjaan lain bukan urusi kamu saja!", anak merasa dirinya tidak penting, ia merasa dirinya tidak bisa memenuhi harapan orangtuanya, tetapi ia memang tidak ingin makan. Akhirnya anak mengalami konflik diri yang tidak kentara dan harga dirinya menjadi terkontaminasi. Atau "Kalau lari-lari seperti itu Mama tidak akan suapi kamu lagi!". Kenyataannya adalah besok ia disuapi lagi. Orangtua menjadi tidak konsisten di mata anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika persepsi awal kita adalah positif misalnya,"Saya harus membantunya mengerti mengapa ia perlu makan sekarang", atau "Ia adalah seorang anak yang perlu dimengerti" maka tindakan berikutnya bagi kita bisa sangat berbeda. Mungkin kita akan menanyainya dengan penuh perhatian mencari sebab mengapa ia berlarian ketika disuapi makan. Akibatnya adalah si anak merasa diperhatikan dan dimengerti. Ia bisa merasa diterima sehingga harga dirinya berkembang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh tersebut jelaslah bahwa persepsi mengarahkan tindakan kita. Dan tindakan kita akhirnya memicu reaksi dari anak. Reaksi dari anak akan memicu pemikiran tertentu. Dan pemikiran ini akan membentuk persepsi anak tentang dirinya sendiri. Akhirnya konsep diri anak terbentuk. Bisakah anda melihat peranan anda sebagai orangtua sangat besar dalam membentuk konsep diri anak anda? Tahukah anda bahwa konsep diri inilah yang akan menentukan masa depannya kelak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua, dalam tingkat tertentu yang signifikan, ikut menentukan masa depan dan nasib seorang anak melalui sikap dan tindakan mereka kepada anaknya. Sebagai orangtua kita sangat berkewajiban untuk mengembangkan kontrol diri dan kesadaran yang sangat tinggi melalui upaya pembelajaran terus menerus sehingga kita sanggup memberikan teladan dan contoh terbaik bagi anak-anak kita. Ibarat pohon dan buah, kita orangtua adalah akar yang menentukan kualitas buah seperti apa yang akan kita hasilkan. Jika sebagai akar kita tidak mampu menyerap nutrisi di sekitar kita dan tidak mampu menyalurkannya ke batang pohon maka buah di atas sana tidak akan berkembang dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orangtua kita perlu mengembangkan diri untuk memperbaiki diri dengan cara mengontrol persepsi kita dan menelitinya kembali asal mula persepsi itu terbentuk dalam diri kita demi masa depan anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Ariesandi S.,CHt&lt;br /&gt;Pendiri Mathemagics dan Hypnoparenting Education&lt;br /&gt;and Therapy Center serta online course&lt;br /&gt;www.hypnoparenting.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-5789955563210097470?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/5789955563210097470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/05/persepsi-orangtua-menentukan-masa-depan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5789955563210097470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5789955563210097470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/05/persepsi-orangtua-menentukan-masa-depan.html' title='Persepsi Orangtua Menentukan Masa Depan Anak'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SiBT5XLTxmI/AAAAAAAAAck/R3R4UTnfFbI/s72-c/bc7861-002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-445764743038502486</id><published>2009-04-13T16:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T16:43:52.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='orang Tua Super'/><title type='text'>Menjadi Orangtua Sebagai Sebuah Keputusan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SePOFLfN_CI/AAAAAAAAAbU/l_JLXhXfR7Y/s1600-h/cb7930-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 149px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SePOFLfN_CI/AAAAAAAAAbU/l_JLXhXfR7Y/s320/cb7930-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324325772860455970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memiliki anak bisa jadi merupakan suatu perubahan gaya hidup yang bisa sangat menekan. Dr. Phil, seorang ahli hubungan asal Amerika, menyarankan kedua calon orangtua untuk membuat suatu perubahan, dan mendorong Anda untuk belajar menjadi orangtua yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi orangtua merupakan suatu keputusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa saja mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadiran si kecil. Ketahuilah sejak dini, bahwa pada suatu titik, keinginan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab dan tugas menjadi orangtua bisa mendera atau tiba-tiba datang. Sambutlah tantangan yang hadir bersamaan dengan kedatangan Si Buah Hati, jangan dilawan. Buka hati Anda, dan nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tukar prioritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekarang hidup sudah tak hanya melulu tentang Anda. Anda memiliki peran penting sebagai pelindung anak Anda. Buatlah keputusan bahwa anak Anda akan memiliki orangtua yang selalu ada dan bertanggung jawab akan seluruh kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehadiran kedua orangtua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing orangtua memiliki peran penting terhadap perkembangan anak. Meski ibu memiliki peran lebih primer terhadap hidup anak, namun ayah pun perlu mengekspansi definisi tipe ayah seperti apakah dirinya, dan tipe hubungan apa yang akan dilakukannya dengan anak. Menurut Akademi Kedokteran Anak di Amerika, anak butuh keterlibatan ayah dalam pertumbuhannya. Ketika sang ayah hadir dan mengasuh anaknya, anak akan memiliki emosi lebih baik dan lebih memiliki kehidupan sosial lebih baik. Ditambah lagi, anak akan memiliki kemampuan beradaptasi dan menghadapi masalah lebih baik, lebih mampu menyelesaikan masalah, betah di sekolah, memiliki hubungan yang lebih lama, dan memiliki produktivitas lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Role mode&lt;/span&gt;l paling berpengaruh dalam hidup anak adalah orangtua yang sama jenis&lt;br /&gt;Amat penting bagi orangtua untuk memberi contoh yang baik bagi anak, karena di usia-usia awalnya anak akan menirukan orangtua dengan jenis kelamin sama. Kepribadian anak akan terbentuk sebagian besar di usia 5 tahun. Anak akan menirukan intonasi suara, juga apakah si orangtua akan menghabiskan waktu berkualitas dengannya. Anak akan merasakan apakah ia spesial atau tidak dari perlakuan yang diberikan kedua orangtua, khususnya dari orangtua yang berkelamin sama dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hidup adalah tentang keputusan-keputusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangkan. Ketika Anda memutuskan untuk memilih sesuatu, akan ada harga yang harus dibayar di sisi lainnya. Jika Anda memilih untuk memprioritaskan kehidupan di rumah, maka akan ada pengorbanan di kehidupan profesional dan sosial. Begitu pula ketika Anda memutuskan lebih banyak bekerja, maka kehidupan rumah tangga Anda terancam untuk kekurangan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tinggalkan masa lampau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah seberapa sakitnya hati Anda akan situasi yang pernah Anda alami di masa lalu, jangan menyeret masalah tersebut ke dalam gaya hidup baru Anda bersama keluarga baru. Sembuhkan luka tersebut, tutup, atau hal itu bisa mengkontaminasi kehidupan Anda yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buat deposito emosional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah seperti rekening bank. Jika apa yang kita lakukan adalah menarik uang terus menerus, maka kita akan berakhir bangkrut secara emosional. Anda tak dapat membuang-buang apa yang Anda tak punya. Jika Anda secara emosional tidak siap untuk Anda, berarti Anda sudah curang kepadanya. Rawatlah diri Anda fisik dan emosional, sebagai hadiah untuk anak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak-anak melakukan apa yang mereka lihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak sering terekspos terhadap stres, tekanan, frustasi, atau kemarahan, mereka akan merefleksikannya terhadap kehidupan sehari-hari di dalam diri maupun di lingkungannya. Mereka melakukan segala hal yang ia lihat dan pelajari di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadikan hubungan suami-istri prioritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Titipkan anak kepada orang yang dipercaya untuk satu malam yang istimewa untuk Anda dan pasangan. Hubungan harmonis di antara kedua orangtua adalah hadiah terindah untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bekerja sama dengan suami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengasuh anak sama melelahkannya seperti menangani tugas lainnya, misalnya merawat rumah. Jika Anda melihat suami yang sejak tadi merawat Si Kecil mulai kelelahan, biarkan ia istirahat. Atau ketika Anda kelelahan menjaga Si Kecil, minta dengan sopan agar suami mau menggantikan sebentar. Jadilah sebuah tim yang saling mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber : dr. phil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-445764743038502486?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/445764743038502486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/04/menjadi-orangtua-sebagai-sebuah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/445764743038502486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/445764743038502486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/04/menjadi-orangtua-sebagai-sebuah.html' title='Menjadi Orangtua Sebagai Sebuah Keputusan'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SePOFLfN_CI/AAAAAAAAAbU/l_JLXhXfR7Y/s72-c/cb7930-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-7949173272119369702</id><published>2009-04-06T14:25:00.001-07:00</published><updated>2009-04-06T14:39:41.349-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>SI KECIL NGOTOT PERTAHANKAN YANG SALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sdp2SFJtgiI/AAAAAAAAAaA/KcfSBMLqSo8/s1600-h/886704-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 114px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sdp2SFJtgiI/AAAAAAAAAaA/KcfSBMLqSo8/s320/886704-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321695962684293666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi "ulah" si kecil di usia ini yang kerap bikin kita jengkel. Betapa tidak, ia tahu baju yang dipakainya warna merah, misal, tapi dibilangnya putih. Ketika diberi tahu, "Bukan putih, Nak, tapi merah.", eh, ia malah ngotot, "Putih, Ma!" Coba, siapa yang enggak jengkel? Sudah gitu, ia pakai senyum-senyum segala seolah ngeledek. Tambah bikin dongkol, kan? Hingga tak jarang kita terpancing memarahi sikapnya yang nyeleneh itu. &lt;br /&gt;Padahal, menyalah-nyalahkan yang benar dan membenar-benarkan yang salah semacam ini, terang Indri Savitri, merupakan hal wajar alias normal dalam dunia batita. Soalnya, pada anak usia 2-4 tahun, pola perilaku yang mengarah negativisme seperti itu masih amat menonjol, bahkan merupakan bagian dari proses perkembangannya. "Waktu bayi, ia, kan, sama sekali tak berdaya. Ia sangat tergantung pada pengasuh maupun ibunya karena segala hal masih harus diladeni dan dibantu. Seiring pertambahan usia, ia pun makin berkembang dan selalu mencoba cari tahu dengan mengeksplorasi apa saja yang ada di sekitarnya. Nah, dalam rangka bereksplorasi inilah, ia menggunakan caranya sendiri yang antara lain lewat negativisme," paparnya. &lt;br /&gt;Pantas saja, ya, Bu-Pak, si kecil jadi berperilaku demikian. Bukan cuma itu, lo. Masih dalam rangka bereksplorasi, menurut Indri, si kecil di usia ini juga cenderung "ngerjain" atau memancing kemarahan orang lain, terutama orang tua dan saudara kandungnya. Ia ingin tahu bagaimana kalau ibunya marah, misal. "Meski tak semua memperlihatkan kecenderungan ini, namun pada dasarnya batita senang melihat hal-hal yang berbeda atau merasakan pengalaman yang lain," terang psikolog dari LPT UI ini. &lt;br /&gt;TINGGALKAN BAHASA BAYI&lt;br /&gt;Sebenarnya, perilaku ini bisa diminimalisir, kok. Maksudnya, kita bisa mencegah agar si kecil tak kelewat terpancing untuk menyalah-nyalahkan yang benar dan membenar-benarkan yang salah. Caranya, jangan ajari si kecil berbicara dengan menggunakan bahasa bayi semisal "cucu" untuk "susu", "wawo" untuk "baso", "emen" untuk "permen", dan sebagainya.&lt;br /&gt;Logikanya, tutur Indri, "anak tak akan pernah berusaha belajar dan menerapkan yang benar jika dibiasakan pada yang salah." &lt;br /&gt;Nah, bila Ibu-Bapak kerap menggunakan bahasa bayi saat berbicara dengan si kecil, mulai saat ini harus diubah, ya. Tentu "kesalahan" si kecil juga harus diperbaiki namun tanpa dibarengi emosi dan nada tinggi, lo. Lama-lama ia pun akan paham, kok. Tapi kita pun harus pula melihat perkembangan dan kematangannya. Maksudnya, bila si kecil usia 1,5 tahun, masih bisa diterima jika belum jelas melafalkan kata-kata tertentu yang belum akrab dengan kebutuhan fungsionalnya. Namun kita tetap mengarahkannya untuk mengucapkan kata-kata itu secara benar. &lt;br /&gt;Bila usianya 3 tahun dan masih menggunakan bahasa bayi, kita harus mencermati sekaligus mencarikan ahli dan jalan keluarnya. Pasalnya, di usia ini ia seyogyanya sudah punya sekian banyak perbendaharaan kata dan mampu menyusun kalimat sederhana, serta mengucapkannya dengan lafal yang benar. Kecuali anak cadel bawaan seumur hidup karena lidahnya pendek, misal. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;JANGAN TERPANCING&lt;br /&gt;Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini? Saran Indri, terangkan saja apa adanya sesuai bahasa anak dengan pengucapan yang benar. Misal, "Ini baju merah, Nak." Gunakan pula alat bantu semisal pensil warna, crayon, atau spidol untuk membantu si kecil memahami warna secara benar. Kita bisa pula memanfaatkan benda-benda berwarna di sekitarnya agar ia makin mendalami pemahaman warna. Dengan cara ini, kita pun bisa sekaligus mendeteksi apakah ia buta warna atau tidak. &lt;br /&gt;Bila ia tetap ngotot kendati sudah dijelaskan, "enggak perlulah orang tua ikut ngotot sampai main perintah hanya karena tak mau kalah." Cara begini, tutur Indri, justru bikin si kecil merasa "dijajah". Bukankah berarti ia harus selalu mengikuti pendapat kita sekalipun pendapat kita memang benar? Hati-hati, lo, dalam diri si kecil bisa terpupuk niat memberontak bila kita kerap bersikap layaknya seorang komandan yang selalu main perintah. Soalnya, makin dipaksa, makin ia menentang otoritas kita; ia makin tertantang membuktikan, "Aku juga bisa, kok, seperti Bunda." Buatnya, melakukan sesuatu yang baru semacam ini malah jadi kebanggaan tersendiri, lo. &lt;br /&gt;Lebih baik, saran Indri pula, tanggapi dengan sedikit bergurau. Misal, "Ah, masa, sih, ini warna putih, Nak? Coba, deh, amati lagi." Tapi, jangan lantaran harus tetap mempertahankan selera humor, kita lantas memberinya perhatian berlebih semisal tertawa atau menganggapnya lucu. Soalnya, bila dianggap lucu, ia justru memperkuat perilaku buruk atau "kesalahan"nya tadi. &lt;br /&gt;Bila ia masih juga ngotot, "lebih baik alihkan pada kegiatan lain yang lebih menarik, entah berjalan-jalan atau bermain bersama," anjur Indri. Cara ini juga bisa diterapkan bila kita tahu persis niat si kecil memang semata-mata ingin "ngeledek". "Ketimbang buang waktu dan energi, lebih baik cut saja deh dan alihkan pada aktivitas lain." &lt;br /&gt;Bisa juga dengan memanfaatkan masa eksplorasi anak. Misal, "Coba, deh, Adek sebutkan yang warnanya merah itu apa saja, sih?" Dengan begitu, si kecil jadi berpikir mencari jawaban hingga wawasannya pun bertambah. Sementara kita pun tak terpancing untuk marah karena konflik terbuka dengan si kecil bisa dihindari. &lt;br /&gt;Nah, enggak sulit, kan, Bu-Pak, mengatasi masalah ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-7949173272119369702?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/7949173272119369702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/04/si-kecil-ngotot-pertahankan-yang-salah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/7949173272119369702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/7949173272119369702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/04/si-kecil-ngotot-pertahankan-yang-salah.html' title='SI KECIL NGOTOT PERTAHANKAN YANG SALAH'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sdp2SFJtgiI/AAAAAAAAAaA/KcfSBMLqSo8/s72-c/886704-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-5154799423952485206</id><published>2009-03-29T13:47:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T13:56:41.585-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Banyak Orangtua Abaikan Emosi Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sc_gNeH54TI/AAAAAAAAAZY/paIuszBa5b4/s1600-h/427736-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 114px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sc_gNeH54TI/AAAAAAAAAZY/paIuszBa5b4/s320/427736-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318716206976983346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak orangtua dinilai masih mengabaikan emosi pada anak baik berupa rasa sedih, marah, dan bahagia sehingga tidak bisa terkelola dengan baik dan berdampak pada pembentukan mental emosionalnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Orangtua masih banyak yang tidak menyadari emosi pada anak bahkan cenderung tidak peduli," kata pakar psikologi anak, Seto Mulyadi, di Padang, Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto hadir di Padang dalam rangka memberikan seminar tentang "Pengelolaan Emosi pada Anak" diikuti ratusan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dan orangtua di aula Kantor Gubernur Sumbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, banyak orangtua yang hingga kini mengabaikan dan bahkan cenderung mengabaikan emosi pada anak padahal hal tersebut akan berdampak buruk pada perkembangan emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada orangtua yang tidak menyadari anaknya marah atau sedih dan cenderung tidak peduli, padahal anak ketika itu butuh perhatian," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, kata Seto anak akan tumbuh jadi tertutup dan tidak bisa mengelola emosinya dengan stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seto mengatakan pendidikan pada anak usia dini atau usia nol sampai lima tahun sangat penting karena pada periode itulah masa emas pembentukan otak dan kepribadian anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada masa itu sangat penting bagi orangtua untuk memberikan pendidikan bagi pembentukan sel otak dan emosional pada anak untuk membentuk kepribadiannya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kata Seto, orangtua cenderung tidak menyadari dan mengabaikan masa tersebut, bahkan ada yang memberikan pendidikan tidak seimbang hanya membentuk kecerdasan intelektual saja dan mengabaikan kecerdasan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini yang lebih berperan itu justru kecerdasan emosional dan spritual bukan kecerdasan intelektual saja," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dia mengimbau orangtua untuk memperhatikan pendidikan anak, misalnya dengan memasukkannya pada lembaga PAUD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, orangtua juga diimbau lebih memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak sehingga bisa membentuk untuk menjadi kepribadian yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : KOMPAS.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-5154799423952485206?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/5154799423952485206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/03/banyak-orangtua-abaikan-emosi-anak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5154799423952485206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5154799423952485206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/03/banyak-orangtua-abaikan-emosi-anak.html' title='Banyak Orangtua Abaikan Emosi Anak'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/Sc_gNeH54TI/AAAAAAAAAZY/paIuszBa5b4/s72-c/427736-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-8023055875678265312</id><published>2009-03-24T15:06:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T15:29:09.413-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>ANAK SUKA MEMUKUL</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;"Anak Anda akan memukul anak lain dan ia pun akan dipukul anak lain. Bagaimana Anda menyikapinya?" &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Bu, tadi Dita mukul Andi sampai nangis," lapor babysitter begitu Anggi pulang kerja. Kontan wajah Anggi memerah. Pasalnya, bukan sekali itu saja Dita, putrinya yang baru berusia 1,5 tahun, memukul temannya waktu bermain. Dan seperti biasa, Anggi segera menelepon orangtua Andi dan meminta maaf.&lt;br /&gt;Seperti halnya Anggi, Anda pun mungkin malu ketika batita Anda memukul temannya. Kebanyakan orangtua merasa seperti itu, karena takut dianggap tak mampu mendidik anak dengan baik. Padahal, perilaku memukul, sebagaimana perilaku agresif lainnya seperti menggigit, menendang, mendorong, mencubit, dan melempar-lempar barang, menurut para ahli, wajar-wajar saja di usia batita. Apalagi jika hal itu dilakukan anak Anda yang baru berusia setahun. Ini karena ia belum mampu mengungkapkan perasaan-perasaannya maupun keinginan-keinginannya.&lt;br /&gt;Seperti dikatakan psikolog Rahmitha P. Soendjojo, perilaku memukul biasanya muncul pada anak yang belum bisa berbicara atau baru mulai belajar bicara. "Perbendaharaan katanya masih sangat terbatas, sehingga memukul menjadi salah satu bahasa untuk menyatakan keinginannya maupun ketika ia merasa kurang nyaman atau tak aman," jelas Pjs. Manajer Komunikasi YKAI ini.&lt;br /&gt;Perilaku memukul, menurut Rahmitha, juga bisa terjadi pada anak yang punya energi berlebihan. "Jika ia banyak dilarang sementara energinya tetap ada dan ia tak tahu cara menyalurkannya, akibatnya ia lalu memukul atau melakukan perilaku agresif lainnya," tutur lulusan Fakultas Psikologi Unpad ini. Begitu pula dengan anak-anak yang terluka, entah karena marah, kesal, kecewa, atau sedih, dan ia tak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan-perasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;DIJAUHI TEMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;What to Expect the Toddler Years&lt;/span&gt; karya Einsenberg, Murkoff &amp;amp; Hathaway, dikatakan, banyak perilaku agresif anak usia ini berhubungan dengan frustrasi. Ini karena dalam diri mereka seringkali muncul konflik antara rasa percaya dan tak aman, keinginan mandiri dan ketergantungan, keinginan berkuasa dan keadaan tak berdaya. Dan, jangan lupa, anak usia ini memiliki rasa ingin tahu yang besar serta senang bereksperimen.&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kata Rahmitha, memukul atau perilaku agresif lainnya adalah reaksi alamiah ketika seseorang merasa kesal, marah, atau frustrasi. Begitu pula yang dialami batita Anda. Jadi, wajar saja bila ia memukul atau dipukul anak lain. Tapi bukan berarti Anda boleh mengijinkan ia memukul. Anda tetap tak boleh membiarkan ia memukul, hanya karena ia masih terlalu kecil untuk mengetahui hal yang baik. Memang, masih cukup sulit baginya untuk mengerti perbedaan benar dan salah, tapi ia sepenuhnya akan mengerti mana tingkah laku yang Anda inginkan dan mana tingkah laku yang Anda larang.&lt;br /&gt;Lagipula, dengan membiarkan anak memukul, lama-lama ia tak mengenal cara lain untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya. Jika memukul akhirnya menjadi kebiasaan, ia akan dijauhi oleh teman-temannya yang berarti menghambat perkembangan sosialisasinya.&lt;br /&gt;Jadi, apa yang harus kita lakukan jika anak memiliki "hobi" memukul?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;KALAU IA MEMUKUL&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Beri Arahan Singkat&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika ia hendak memukul, cepat pegang tangannya dan katakan, "Jangan memukul. Mama tak suka bila kamu memukul, karena itu sakit." atau, "Mama sayang kamu, tapi Mama tak senang bila kamu memukul." Kalimat-kalimat seperti ini cukup efektif untuk ia agar mendengar pengarahan Anda.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Alihkan Perhatiannya&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah Anda melarangnya memukul, segera alihkan perhatiannya dengan mengajak ia berpartisipasi dalam permainan lain tanpa konfrontasi. Dengan demikian, untuk sementara, ia dan temannya akan melakukan permainan baru satu sama lain dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Jangan Mempermalukan&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kata-kata yang Anda gunakan untuk membuat ia berhenti memukul dapat menjadi suatu kekuatan tersendiri. Jika Anda sampai mempermalukannya, Anda hanya akan membuat ia melawan dan bertindak defensif. Jangan berkata, "Kamu memang anak nakal!" tapi katakan, "Mama tak suka bila kamu memukul Jodi."&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Bersikap Konsekuen&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika ia kembali memukul, bertindaklah tegas dan konsekuen. Ia harus menghentikan permainannya, entah dengan menyuruhnya duduk di sebelah Anda tanpa aktivitas untuk beberapa saat, atau ajak ia pulang jika saat itu ia bermain di rumah temannya. Katakan padanya, "Kamu tidak bermain baik sama sekali. Kamu gampang sekali memukul teman. Teman-temanmu tidak menyukaimu lagi jika kamu suka memukul."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Time-out&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ini cara yang baik untuk mengatasi dorongan memukul, tapi bukan merupakan tindakan hukuman. Ini merupakan satu cara untuk mengendalikan emosi anak, agar ia melihat apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Tapi jangan gunakan time-out untuk menguliahinya. Petuah diberikan setelah time-out selesai dan ia sudah mulai tenang.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Selamatkan Korban&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika anak lain sampai menangis karena dipukul anak Anda, segera pusatkan perhatian pada anak itu dan hiburlah daripada menegur anak Anda. Jika anak Anda menyerang, pisahkan anak lain itu dengan aktivitas lain, lalu tenangkan anak Anda. Dengan nada rendah dan tanpa kemarahan, jelaskan secara ringkas bahwa memukul adalah perilaku yang tak dapat diterima dan mengapa hal itu tak boleh dilakukannya. Misalnya, Anda dapat mengatakan, "Kamu menyakiti Andi ketika kamu memukulnya."&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tunjukkan Perilaku Yang Anda Inginkan&lt;/blockquote&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika ia memukul Anda, dengan tenang jauhkan tangannya dan pegang ia. Katakan dengan singkat dan sungguh-sungguh, tapi tanpa kemarahan, "Tolong jangan pukul Mama. Itu menyakitkan." Lalu, gunakan tangannya untuk mengusap secara lembut, bagian tubuh Anda yang ia pukul, dan katakan, "Lihat, inilah yang Mama sukai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;TINDAK PENCEGAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* Tentukan Batas&lt;br /&gt;Tentukan aturan yang jelas bagaimana ia harus bertingkah laku. Mulai usia 18 bulan, ia cukup mampu untuk memahami batasan-batasan sederhana, meskipun ia tak akan mematuhinya sepanjang waktu. Yang penting, biarkan ia tahu bahwa menyakiti orang lain dan menggunakan kekuatan kasar untuk memecahkan konflik adalah salah.&lt;br /&gt;* Sahkan Perasaannya&lt;br /&gt;Semua perasaan adalah sah, tapi tidak demikian dengan beberapa perilaku. Katakan padanya, "Kamu boleh merasa marah ketika temanmu merebut mainanmu. Tapi kamu tak boleh memukul, karena pukulan membuat sakit."&lt;br /&gt;* Ajarkan Kata-kata Pengganti Pukulan&lt;br /&gt;Anda dapat mengajarkannya kata-kata seperti "Hentikan!", "Jangan!", "Ini milikku!", "Tidak!" dan "Pergilah!" sebagai alternatif memukul. Sehingga, saat temannya merebut mainan yang sedang ia mainkan, ia dapat mengatakan, "Jangan, ini milikku!", bukan malah memukulnya.&lt;br /&gt;* Minimalisir Frustrasi&lt;br /&gt;Bantu ia mempelajari keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari seperti keterampilan sosial, bermain, berbusana, dan keterampilan makan. Ini akan mengurangi rasa frustrasinya.&lt;br /&gt;* Awasi Saat Ia Bermain&lt;br /&gt;Selalu dampingi saat ia bermain bersama teman-teman atau saudara kandungnya, tapi Anda tak harus selalu berada di dekatnya. Yang penting, Anda dapat dengan mudah mengawasinya.&lt;br /&gt;* Batasi Jumlah Teman Bermainnya&lt;br /&gt;Di usia ini, ia baru mulai belajar bersosialisasi. Dua atau tiga teman bermain sudah cukup dalam satu waktu permainan. Anda pun lebih mudah mengawasinya.&lt;br /&gt;* Beri Perhatian Untuk Perilaku Baik&lt;br /&gt;Memukul seringkali mengundang perhatian anak-anak yang kerap diabaikan atau tak dihargai ketika mereka berperilaku baik. Seorang anak yang merasa tak cukup diperhatikan akan mungkin melakukan sesuatu untuk diperhatikan, salah satunya memukul teman atau saudara kandung. Beri ia cukup perhatian seperti hadiah, ciuman, dan pelukan untuk perilakunya yang baik.&lt;br /&gt;* Kontrol Diri Anda&lt;br /&gt;Apa pun yang Anda lakukan dan alami, jangan bereaksi terhadap perilaku tak menyenangkan dari anak dengan memukulnya. Jika Anda sedang stres dan Anda memukulnya, berarti Anda mengajarkan ia bahwa kekerasan adalah reaksi wajar dari orang yang berada di bawah tekanan atau stres. Jadi, jangan sampai Anda lepas kontrol.&lt;br /&gt;* Jangan Gunakan Pukulan Untuk Disiplin&lt;br /&gt;Jika Anda melarangnya memukul, tapi Anda malah memukul tangannya saat melarang sesuatu, maka Anda tak membantu ia melihat apa yang seharusnya ia ketahui dari suatu kebiasaan. Dengan Anda memukulnya, ia belajar bahwa memukul merupakan satu cara agar orang lain mematuhi perintahnya atau memenuhi keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-8023055875678265312?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/8023055875678265312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/03/anak-suka-memukul.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8023055875678265312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8023055875678265312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/03/anak-suka-memukul.html' title='ANAK SUKA MEMUKUL'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-1723850274027411855</id><published>2009-03-05T12:57:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T13:23:51.111-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>HAL BARU YANG DIPAHAMI SI BATITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SbBC0P5J0_I/AAAAAAAAAYo/t_KVZ93OIz8/s1600-h/radit+oke.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SbBC0P5J0_I/AAAAAAAAAYo/t_KVZ93OIz8/s320/radit+oke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309817426056696818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-size:130%;" &gt;Perkembangan batita&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:130%;" &gt; &lt;/span&gt;selalu menarik untuk diikuti. Di usia ini selalu saja ada kemampuan baru yang dikuasainya setiap hari. Mungkin juga salah satu di antara 6 hal berikut ini adalah kemampuan yang baru dikuasai batita Anda. Apa sajakah itu? Ikuti penjelasan yang disampaikan Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1. MELAMBAIKAN TANGAN SAAT ADA YANG MENGATAKAN, "DAAHH...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ada orang yang melambaikan tangan sambil mengatakan, "Daahh...", batita sudah bisa membalas melambaikan tangan. Beberapa juga bisa mengatakan, "Daahh...," bahkan ada yang sudah bisa menirukan gerakan kiss bye alias mencium tangannya sebelum dilambaikan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;* Bagaimana batita memahami perintah ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat pengulangan aksi ini sehari-hari, batita bisa memahami kemudian menirukannya karena cara belajar batita adalah dengan meniru selain bereksplorasi. Ia bisa meniru suatu aksi jika melihatnya berulang kali. Terkadang ada yang sekali melihat, langsung meniru gerakan tangannya saja. Tapi biasanya untuk dikaitkan dengan kata, "Daahh...," perlu pengulangan beberapa kali.&lt;br /&gt;Menurut tokoh psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, sejak usia 8 bulan ke atas, anak sudah mengembangkan perilaku yang memiliki maksud tertentu atau goal directed behavior. Jadi, anak sudah paham bahwa perilaku tertentu akan mengakibatkan reaksi tertentu. Contoh, ia tahu kalau ia menunjuk gelas, ibu akan mengambilkan air minum untuknya. Begitu juga dengan melambaikan tangan. Anak sudah paham jika saatnya berpisah, maka lambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-style: italic;"&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cukup dengan pembiasaan saja. Setiap kali akan berpisah, tunjukkan lambaian tangan dan katakan, "Daahh...." Tunjukkan secara jelas pada anak bagaimana telapak tangan membuka dan lalu ucapkan, "Daahh...," secara perlahan agar jelas terdengar oleh anak dan mudah ditirukannya. Anak juga dapat dibantu dengan mengangkatkan tangannya lalu melambaikannya. Tapi jangan dengan paksaan. Karena jika dipaksa, anak malah menolak dan semakin tidak mau melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-style: italic;"&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak belum bisa melakukannya karena beberapa sebab, di antaranya:&lt;br /&gt;- Merasa dipaksa&lt;br /&gt;Solusi: Jadikan kegiatan ini sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kalau anak tidak mau, jangan memaksanya. Cukup lakukan di hadapannya sebagai contoh sampai terjadi pembiasaan.&lt;br /&gt;- Malu&lt;br /&gt;Solusi: Lakukan bersama-sama sehingga anak tidak merasa "aneh sendiri" saat melakukannya.&lt;br /&gt;- Ada hambatan pada otot tangan.&lt;br /&gt;Solusi: Untuk yang terakhir ini, orangtua dapat membantu anak dengan mengajak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan motoriknya seperti mengelap kaca sambil bermain, mencuci mobil sambil bermain, membelai boneka (agar telapak tangannya membuka), dan sebagainya.&lt;br /&gt;Tapi umumnya melambaikan tangan sambil mengatakan, "Daahh..." adalah kemampuan yang mudah dikuasai semua anak sehingga jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2. MEMAHAMI PERINTAH SATU LANGKAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di usia ini anak sudah bisa memahami perintah satu langkah. Umpama, "Ambil bolanya," "Letakkan piringnya," "Minum susunya," dan perintah satu langkah lainnya.&lt;br /&gt;* Bagaimana batita memahami perintah satu langkah ini?&lt;br /&gt;Dengan semakin berkembangnya kemampuan komunikasi khususnya perkembangan bahasa, anak dapat melakukan komunikasi dua arah atau interaktif. Dengan demikian ia mampu memahami bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan di balik instruksi yang ia dengar. Ketika orangtua mengatakan, "Ambil bolanya," anak akan mengambil bola dan memberikannya kepada orangtua. Anak batita tanpa gangguan pendengaran atau gangguan perkembangan lainnya, seperti ADHD dan autisma selayaknya dapat mengikuti perintah tunggal tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;br /&gt;Dengan mengajaknya bermain bersama, ada banyak rangsangan berupa instruksi yang dapat diberikan kepada anak. Orangtua juga bisa berganti peran dengan anak sehingga dapat memberikan contoh bagaimana cara melaksanakan instruksi. Mengikutsertakan anak dalam aktivitas "sekolah" atau kelompok bermain juga bermanfaat untuk melatih kemampuan ini.&lt;br /&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;br /&gt;Karena kemampuan ini terkait dengan kemampuan bahasa, maka orangtua harus terus memberikan stimulasi yang merangsang anak menambah database kosakatanya. Caranya dengan terus mengajaknya ngobrol, membacakan dongeng, mengajaknya bernyanyi, dan sebagainya. Sedangkan anak-anak yang memiliki gangguan pendengaran, gangguan konsenstrasi, dan autisma harus segera mendapat intervensi berupa penanganan yang komprehensif dari ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;3. PAHAM KEABADIAN OBJEK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak batita tahu bahwa kucing yang menghilang di balik pintu bukan benar-benar "lenyap" ditelan bumi, melainkan tetap ada meski tak terlihat lagi olehnya.&lt;br /&gt;* Bagaimana batita memahami keabadian objek ini?&lt;br /&gt;Menurut Piaget, di usia 8-12 bulan, anak sudah paham tentang object permanence, yaitu benda tak akan hilang meskipun hilang dari pandangan mata. Di usia ini anak mulai mengembangkan skema perilakunya yang terjadi melalui pengalaman yang dialaminya sendiri. Dengan mengeksplorasi dan mengamati, dia akan tahu bahwa benda itu masih ada. Tapi jika benda tersebut dipindahkan dari tempat persembunyiannya ke tempat kedua, anak masih terus akan mencari di tempat pertama. Kemampuan ini terus berkembang sampai anak bisa paham permainan petak umpet di usia selanjutnya.&lt;br /&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;br /&gt;Melalui permainan cilukba atau menyembunyikan suatu benda dengan saputangan, anak belajar keabadian objek. Tunjukkan pada anak begitu saputangan dibuka, ternyata bendanya masih ada.&lt;br /&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;br /&gt;Bila tak ada gangguan khusus, pemahaman ini pasti bisa dikuasai anak dengan sendirinya. Jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;4. PAHAM BEBERAPA EKSPRESI EMOSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di usia batita, anak paham beberapa ekspresi emosi sederhana, seperti marah, sedih, senang, antusias, terkejut.&lt;br /&gt;* Bagaimana batita memahami ekspresi emosi ini?&lt;br /&gt;Pemahaman ini didapat sejalan dengan perkembangan sistem saraf otak, pengalaman emosi dalam kehidupannya, reaksi/respons emosi dari orang-orang terdekatnya.&lt;br /&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;br /&gt;Tunjukkan ekspresi emosi yang tepat untuk setiap kejadian dan sebutkan label emosinya. Misal, "Wow, Mama senang sekali karena kamu makan sampai habis!" Katakan ini dengan ekspresi muka berseri di hadapan anak. Bantu anak memahami perasaannya dengan menyebutkan label emosinya. Contoh, anak menangis karena mainannya rusak, orangtua bisa mengatakan, "Kamu sedih ya karena mainanmu rusak...."&lt;br /&gt;Orangtua juga bisa menstimulasi kemampuan ini melalui bahasa gambar. Sediakan beberapa gambar yang menunjukkan ekspresi sedih, senang, marah, antusias, terkejut. Minta anak untuk memilih gambar yang sesuai dengan apa yang dirasakannya saat itu.&lt;br /&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;br /&gt;Orangtua juga harus ekspresif terhadap emosinya sendiri, tapi tentu saja dengan ekspresi yang tepat dan tidak berlebihan. Orangtua juga harus jeli menangkap sinyal emosi anak lalu bantu ia memahami emosinya. Dengarkan keluhannya lalu identifikasikan emosi yang sedang ia rasakan dan beri masukan bagaimana reaksi/ekspresi yang tepat untuk emosi yang sedang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;5. MEMAHAMI ADA SESUATU DI DALAM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak tahu bahwa dalam lemarinya tersimpan pakaian-pakaiannya, di dalam boks mainan ada mainan-mainannya, di dalam kulkas ada makanan dan sebagainya.&lt;br /&gt;* Bagaimana batita bisa memahami ada sesuatu dalam sesuatu?&lt;br /&gt;Melalui pengalaman dan pengamatan sehari-hari, anak paham bahwa di dalam sesuatu mungkin ada sesuatu. Setiap hari ia melihat ibu atau pengasuhnya membuka kulkas lalu mengambil makanan dari dalamnya, atau membuka lemari dan mengambilkan pakaian untuknya. Itu semua membuatnya mengerti bahwa di dalam wadah tertutup ada ruang untuk menyimpan sesuatu.&lt;br /&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;br /&gt;Sambil membuka kulkas, orangtua bisa mengatakan, "Mama mau mengambil keju dari dalam kulkas, Adek mau?" Jelaskan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak apa yang tengah dilakukan supaya ia lebih mudah mengerti. Bisa juga melalui latihan, umpamanya, "Ayo, Adek buka lemarinya, biar Mama ambilkan bajunya." Atau, "Yuk, kita masukkan mainan yang sudah selesai digunakan ini ke dalam boksnya."&lt;br /&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;br /&gt;Ulang-ulang terus stimulasi di atas setiap ada kesempatan. Bisa juga saat membacakan dongeng, orangtua menjelaskan bahwa&lt;br /&gt;dalam sesuatu yang tertutup bisa jadi ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;6. PAHAM FUNGSI SUATU BENDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batita paham beberapa fungsi benda, semisal sepatu untuk alas kaki, bantal untuk tidur, piring untuk makan dan sebagainya.&lt;br /&gt;* Bagaimana batita bisa memahami fungsi suatu benda?&lt;br /&gt;Semua benda yang bersinggungan atau digunakan dalam aktivitas sehari-harinya, seperti saat makan, mandi, tidur, bermain, satu per satu akan dipahami fungsinya. Hal ini terjadi melalui pengamatan, pembiasaan dan peniruan. Ia melihat sebelum pergi orangtuanya selalu mengenakan sepatu, ia jadi paham bahwa sepatu adalah alas kaki yang harus digunakannya untuk bepergian, begitu juga dengan benda-benda lainnya.&lt;br /&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;br /&gt;Sambil mengenalkan benda yang digunakan sehari-hari, sebutkan fungsinya dan peragakan cara menggunakannya. Lakukan ini ketika anak mulai belajar bicara, sekaligus untuk menambah kosakatanya. Umpamanya waktu mandi, "Mana sabun mandinya? Oh, ini ya? Yuk, Mama sabuni dulu supaya badan Adek jadi bersih dan wangi."&lt;br /&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;br /&gt;Secara umum anak pasti akan memahami benda-benda yang digunakannya dalam keseharian. Lakukan terus stimulasi di atas bila anak belum juga paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : nikita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-1723850274027411855?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/1723850274027411855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/03/hal-baru-yang-dipahami-si-batita.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1723850274027411855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1723850274027411855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/03/hal-baru-yang-dipahami-si-batita.html' title='HAL BARU YANG DIPAHAMI SI BATITA'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SbBC0P5J0_I/AAAAAAAAAYo/t_KVZ93OIz8/s72-c/radit+oke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-8667465788651474319</id><published>2009-02-26T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T05:27:33.625-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Belajar Mulai Dini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SaaYe1u785I/AAAAAAAAAYQ/kTva1QyA1qU/s1600-h/885822-005.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 172px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SaaYe1u785I/AAAAAAAAAYQ/kTva1QyA1qU/s320/885822-005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307096866490151826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis. Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).&lt;br /&gt;Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis semakin cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak dengan pelajaran formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan penuturan dari pakar perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagian I - Sistem Proprioseptif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang, selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku, mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem proprioseptifnya belum matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem &lt;span style="font-style: italic;"&gt;proprioseptif&lt;/span&gt; adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara lain dengan melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu kaki dengan mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu duduk tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Attention Deficit Disorder).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih berpuluh-puluh kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau tanpa sadar menulis angka 2 atau 3 secara terbalik. Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem proprioseptif menjadi kuat melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan, membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau bergelantungan di tangga lengkung taman bermain. Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot, tendon, dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju, mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka. Dampaknya, saat nanti mereka memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu. Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini. Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan. Mereka tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan 3.** &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(bersambung) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-8667465788651474319?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/8667465788651474319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/belajar-mulai-dini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8667465788651474319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8667465788651474319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/belajar-mulai-dini.html' title='Belajar Mulai Dini'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SaaYe1u785I/AAAAAAAAAYQ/kTva1QyA1qU/s72-c/885822-005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-1714822467797456735</id><published>2009-02-19T13:44:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T13:51:32.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Latihan Berkonsentrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SZ3UP-FlYdI/AAAAAAAAAX8/Sy-8VVkDT6Y/s1600-h/radit-8.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SZ3UP-FlYdI/AAAAAAAAAX8/Sy-8VVkDT6Y/s320/radit-8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304629306941858258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; batita Anda tak pernah bisa diam; lari sana, lari sini, loncat sana, loncat sini? Atau ia tampak lekas bosan, tak sampai 5 menit pegang satu mainan sudah beralih ke mainan lain? Selamat datang di dunia anak 1-2 tahun! Mereka memang masih kurang fokus atau masih sulit menaruh perhatian terhadap sesuatu untuk waktu yang lama. Ini berhubungan dengan rentang konsentrasi batita yang masih pendek, patokannya sekitar 5-15 menit (bandingkan dengan kemampuan berkonsentrasi anak usia sekolah yang mencapai 30-45 menit).&lt;br /&gt;Toh, patokan itu bukan angka mati. Pada dasarnya, kemampuan konsentrasi setiap anak berbeda. Ada yang hanya mencapai 5 menit, tapi ada juga yang mampu hingga 15 menit. Faktor temperamen, salah satu yang memengaruhi hal tersebut. Anak yang pembawaannya tenang umumnya memiliki rentang konsentrasi yang cukup baik. Ia tidak mudah menyerah dan tidak gampang teralihkan perhatiannya ketika sedang melakukan sesuatu. Contoh, saat tidak bisa memakai sandal, ia akan mencoba dan mencobanya lagi. Sementara anak yang energik (senang bergerak) umumnya akan memiliki rentang perhatian yang lebih rendah serta mudah teralihkan. Ia juga tampak pembosan dan gampang menyerah. Saat tak bisa memainkan pasel, misalnya, anak akan meninggalkannya begitu saja dan beralih pada hal lain. Tak ada yang salah dengan kedua model karakter tersebut. Bukankah mereka masih berusia 1-2 tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FUNGSI KERJA OTAK &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengapa rentang perhatian batita masih pendek? Sebelum menjawab hal itu, perlu diketahui bahwa konsentrasi merupakan sesuatu yang terberikan dan berkaitan dengan fungsi kerja otak. Kemampuan memfokuskan perhatian ini dipengaruhi beberapa hal lain, seperti (1) kemampuan indra (penglihatan dan pendengaran) yang berfungsi menerima rangsang, (2) kemampuan gerak motorik (dalam mengerjakan sesuatu), serta (3) peran lingkungan (dalam memberikan rangsang atau stimulus). Semua harus berfungsi dengan baik, bila salah satu tidak berfungsi optimal, maka stimulus yang masuk tidak bisa ditangkap dan diolah otak dengan baik sehingga respons yang dihasilkan pun jadi terganggu.&lt;br /&gt;Nah, tingkat konsentrasi yang belum baik pada usia batita berkaitan dengan kemampuan fungsi indra, fungsi otak, dan fungsi-fungsi lainnya pada anak 1-2 tahun yang memang belum sepenuhnya optimal (masih dalam perkembangan). Keingintahuan yang besaryang mendorongnya untuk banyak bergerak (bereksplorasi); mencoba ini, mencoba itujuga merupakan penyebab si kecil jadi sulit fokus pada suatu hal dalam rentang waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MELATIH TANPA MENUNTUT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, meski wajar, rentang perhatian anak perlu terus ditingkatkan dengan berbagai stimulasi. Namun ingat, jangan terlalu menuntutnya dapat melakukan suatu aktivitas dengan tekun. Yang bisa diharapkan dari anak usia batita menyelesaikan satu kegiatan hingga tuntas. Tentu saja untuk itu diperlukan kegiatan yang menyenangkan, sambil bermain, tetapi memiliki tujuan. Inilah contoh-contohnya:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada batita awal yang masih minum ASI, lakukan selalu kontak mata dan ajak ia bicara saat disusui. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memberikan kesempatan kepada anak dalam melakukan kemandirian seperti belajar mengenakan sepatu atau sandal sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengajak si batita melihat-lihat gambar pada buku dan membuka lembar demi lembarnya satu per satu. Jelaskan warna-warna apa saja yang ada pada gambar dengan menunjukkannya dan menanyakan kembali pada anak. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ajak si kecil bicara secara fokus dan tuntas. Topik pembicaraan yang tidak jelas cenderung diabaikan oleh anak. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika menyampaikan sesuatu, pastikan anak sedang dalam keadaan siap untuk mendengarkan apa yang dibicarakan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Contoh cara berbicara yang lugas, tidak berpanjang-panjang kalimat dan jelas, sehingga anak dapat menangkap dan memberi respons yang sesuai.&lt;br /&gt;Ajak anak bermain dengan mainan yang menantang sekaligus menuntut pemusatan perhatian seperti pasel 1-2 keping, pasel bentuk 3 dimensi yang hanya dapat dimasukkan ke dalam lubang yang bentuknya sesuai, memasukkan biji-bijian besar ke dalam botol, memasukkan air ke dalam botol memakai corong dibarengi upaya agar tidak tumpah, meronce manik-manik besar, menyusun balok-balok besar, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;Mengajak si batita melakukan aktivitas makan sendiri meski masih berantakan.&lt;br /&gt;Latihan dasar konsentrasi yang sebaiknya dimulai di usia bayi, bahkan kandungan, bertujuan membangun fokus perhatian anak. Konsentrasi sangat diperlukan dalam proses belajar maupun menyelesaikan suatu tugas hingga tuntas. Bukan hanya tugas sekolah tetapi juga tugas-tugas lain dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WASPADAI di ATAS 2 TAHUN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan konsentrasi bisa mulai dideteksi setelah anak berusia 2 tahun. Kondisi ini umumnya makin tampak bila si kecil menginjak usia prasekolah dan semakin jelas saat duduk di sekolah dasar. Kecurigaan umumnya berawal dari keluhan guru karena anak sering tidak betah duduk menekuni satu kegiatan, mengganggu teman-temannya, nilai-nilai akademisnya tidak memuaskan, berbagai tugasnya tidak pernah selesai dikerjakan.&lt;br /&gt;Gangguan konsentrasi akan semakin kentara bila dibarengi dengan hiperaktivitas/ADHD &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Attention Deficiet Hiperactivty Disorder)&lt;/span&gt;. Cirinya, anak seolah tidak mau mendengarkan instruksi, tak mau diam/tenang (selalu bergerak ke sana kemari), tidak selesai dalam menyelesaikan suatu tugas dan mudah teralihkan pada hal lain, ketika ditanya pun ia tidak menjawab, tidak ada kontak mata, dan (biasanya) mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;ADHD berbeda dengan ADD (Attention Deficit Disorder). Anak ADD tidak hiperaktif. Lantaran itulah, gangguan ini lebih sulit dideteksi karena anak (tampaknya) memililki pembawaan tenang dan terfokus pada satu objek tanpa teralihkan. Namun sebetulnya ia tidak bisa mendengarkan esensi yang dibicarakan orang lain, tidak bisa memilah informasi mana yang harus ditangkap maupun diabaikan, dan tidak bisa beralih perhatiannya bila memang diperlukan.&lt;br /&gt;Gangguan konsentrasi tanpa hiperaktivitas atau gerak tak beraturan, biasanya diketahui ketika anak duduk di sekolah dasar. Ketika anak diketahui tidak bisa menangkap secara baik pembicaraan atau penjelasan guru, tidak mengerjakan sesuai perintah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Bila ada perilaku mencurigakan, seperti anak menolak melakukan kontak mata, (bisa dilihat saat anak sudah lewat berusia 2 tahun) maka perlu ditegakkan diagnosa dengan bantuan ahli (psikolog klinis anak, psikiater, ataupun ahli saraf). Penanganan yang akan dilakukan umumnya berupa terapi okupasi dengan meningkatkan kemampuan motorik halusnya sehingga kemampuan konsentrasinya pun akan semakin baik. Terapi lainnya adalah terapi perilaku (misalnya, latihan bicara disertai kontak mata) dan pantang makanan tertentu (seperti susu, gandum, yang dicurigai meningkatkan hiperaktivitas). Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konsentrasi seperti melipat, meronce, dan lain-lain, juga amat disarankan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-1714822467797456735?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/1714822467797456735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/latihan-berkonsentrasi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1714822467797456735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/1714822467797456735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/latihan-berkonsentrasi.html' title='Latihan Berkonsentrasi'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SZ3UP-FlYdI/AAAAAAAAAX8/Sy-8VVkDT6Y/s72-c/radit-8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-6380386709751360221</id><published>2009-02-11T18:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T18:58:40.723-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>GEMAR MENGOSONGKAN BENDA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SZOQNEIxmjI/AAAAAAAAAW8/P20uV4LEhAs/s1600-h/ak8301-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 116px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SZOQNEIxmjI/AAAAAAAAAW8/P20uV4LEhAs/s320/ak8301-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301739740468451890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Rasanya&lt;/span&gt; tak ada anak usia batita yang tak pernah bongkar-bongkar dompet/tas orang tuanya maupun orang lain semisal tamu. Kebanyakan orang tua cenderung memandang negatif perilaku tersebut. Dianggapnya, tak sopan dan lancang. Bahkan, ada pula yang sampai berpikir anak berniat mencuri. Tak heran bila orang tua malunya bukan main kala anaknya "ketangkap basah" buka-buka dompet/tas orang lain.&lt;br /&gt;Padahal, kita sebenarnya tak perlu malu, apalagi sampai berpikiran negatif. Soalnya, "batita masih benar-benar polos. Niatnya buka-buka dompet atau tas sama sekali bukan lantaran ia lancang, apalagi mengarah pada keinginan mencuri. Anak usia ini, kan, belum mengerti nilai uang, konsep besar-kecil, maupun penting dan berharga atau tidak," terang Yohana Ratrin Hestyanti, Psi. dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta. Jadi, enggak fair, ya, Bu-Pak, bila kita menuduhnya demikian.&lt;br /&gt;Perilaku buka-buka dompet/tas, menurut psikolog yang akrab disapa Jo ini, disebabkan anak usia ini punya dorongan kebutuhan bereksplorasi yang sangat besar. "Saking besarnya dorongan ini, ia tak mempedulikan lagi apa objeknya. Semua hal dijadikannya sasaran bereksplorasi, termasuk dompet dan isinya." Pokoknya, sepanjang objek itu dianggap menarik, ia pasti ingin tahu lebih jauh tentang benda pilihannya itu. Entah dengan memegang, meraba, membuka, memencet, mendorong, menjatuhkan, atau membongkar. Itulah mengapa, dompet/tas tamu pun jadi sasaran eksplorasinya.&lt;br /&gt;Selain itu, dorongan bereksplorasi juga tak kenal tempat dan waktu. Hingga, di mana pun dan kapan pun, jika ia sudah tertarik pada suatu benda, ia langsung mengutak-atiknya. Sampai-sampai, saat kita bertamu atau kedatangan tamu pun, ia bisa saja melakukan "kegemaran"nya buka-buka dompet/tas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;GALI RASA INGIN TAHUNYA&lt;br /&gt;Jadi, Bu-Pak, perilaku si kecil yang demikian wajar adanya. Justru bila kita memahami kebutuhan anak usia ini semata-mata untuk bereksplorasi, anak jadi memperoleh banyak masukan dan keuntungan. "Paling tidak, kalau aware, kita akan berusaha memahami proses perkembangan anak. Termasuk mengenali ia memang tak berniat usil, apalagi mencuri karena ia hanya tengah memasuki fase untuk menggali pengetahuan seluas-luasnya," tutur Jo.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sikap positif kita makin merangsang si kecil bereksplorasi secara sehat. Hingga, kita pun tak serta merta menghardik, "Enggak boleh!" kala ia menggeratak dompet/tas, melainkan mencoba mengkomunikasikannya, "Adek sedang apa? Dompet Bunda bagus, ya? Adek suka? Adek lagi cari apa, sih, di situ?" Jadi, kita berupaya menggali rasa ingin tahunya sekaligus "mendorong"nya bahwa tindakannya buka-buka dompet bukan kesalahan.&lt;br /&gt;Baru kemudian secara perlahan, terlebih jika usianya sudah 1,5 tahun, kita kenalkan ia pada konsep kepemilikan, "Ini, kan, dompet Bunda, bukan punya Adek." Jangan lupa, anak usia ini belum mengerti konsep kepemilikan. Itulah mengapa, kita tak boleh mengatakan "kegemaran"nya ini sebagai tindakan lancang atau tak sopan.&lt;br /&gt;MINTA MAAF&lt;br /&gt;Tentu ia harus diajarkan pula, ada hal-hal tertentu yang tak boleh dilakukannya semisal merusak. Jadi, kala ia mulai menunjukkan keinginan menekuk-tekuk KTP atau SIM, misal, kita harus memberinya peringatan, "Eit, enggak boleh, Sayang. Nanti rusak."&lt;br /&gt;Tapi jangan gunakan nada tinggi atau keras saat mengingatkannya, ya, Bu-Pak. Jangan pula panik atau heboh saat melihat ia menggeratak. "Bila kita teriak, ia pasti kaget atau malah menangis," ujar Jo. Dampaknya buruk, lo, buat si kecil bila kita kerap lepas kontrol seperti itu. "Anak jadi merasa tak nyaman dan takut."&lt;br /&gt;Jika lepas kontrolnya cuma sesekali, saran Jo, minta maaf pada anak. "Maaf, ya, tadi Mama karena kaget jadi bentak Adek, deh. Mama nggak bermaksud memarahi Adek, kok, Mama cuma khawatir dompet atau kartu-kartu penting Mama rusak." Permintaan maaf dan penjelasan seperti ini membuat si kecil kembali merasa "terangkat", hingga dampaknya tak sedemikian buruk.&lt;br /&gt;Anak seusia ini, terang Jo pula, justru lebih gampang menangkap apa yang kita sampaikan bila menerangkannya dengan mimik hangat/ramah dan bahasa sederhana. Terlebih bila dibarengi gerakan tangan maupun kepala semisal melambai atau menggeleng.&lt;br /&gt;Lain hal bila si kecil mengarah pada tindakan berbahaya atau merugikan, "orang tua perlu bersikap tegas." Katakan "tidak", lalu segera cari objek penggantinya. Kartu ATM bohong-bohongan atau uang-uangan yang tak kalah menarik, misal, hingga ia bisa teralihkan dari kartu-kartu penting dan berharga yang ada di dompet.&lt;br /&gt;JANGAN IKUT NGOTOT&lt;br /&gt;Bila si kecil tetap ngotot mempertahankan alias tak mau diberi objek pengganti, Jo minta kita tak terpancing menunjukkan sikap frontal atau sama-sama ngotot. "Makin kita ngotot, ia makin asyik menikmati negasi atau penolakannya." Sama halnya meng-cut dengan mengatakan, "Pokoknya enggak boleh!", yang juga harus dihindari. Soalnya, anak usia ini cenderung menunjukkan penolakan yang kuat. "Bila dilarang, malah seperti disuruh, kan? Makin dilarang, ia justru kian gencar melakukannya dan membuat kita terpancing untuk jengkel serta mencapnya dengan sebutan si bandel atau sebutan negatif lainnya."&lt;br /&gt;Harus diingat pula, larangan-larangan yang kelewat sering malah memupus keinginan anak bereksplorasi. Lantaran ia merasa tak aman dan nyaman. Nah, jangan salahkan si kecil bila akhirnya ia jadi takut atau merasa terancam, hingga keingintahuannya terhenti dengan sendirinya. Selain itu, banyak larangan dan dimarahi terus cenderung mengembangkan rasa malu, serba ragu, dan tak berani melakukan apa-apa. Jika sudah begini, bukankah ia tak bisa memanfaatkan masa bereksplorasi dan mengembangkan rasa ingin tahunya secara maksimal? Akhirnya, tahapan perkembangan lain pun ikut terhambat.&lt;br /&gt;Sebaliknya, bila kita selalu sabar dan mampu kontrol diri, kita bisa segera tersadar untuk memberi reaksi yang pas. Misal, dengan memposisikan diri bersimulasi sebagai pembeli dan penjual. Hingga, si kecil pun akan mengembalikannya dengan suka rela. Cara lain, carikan pengganti berupa benda lain yang tak berbahaya namun tetap menarik buat anak; bisa berupa makanan seperti permen dan cokelat, atau berupa mainan maupun bahan bacaan. Jadi, tak perlu dilarang, ya, Bu-Pak. Wong, ia cuma ingin tahu, kok.&lt;br /&gt;KENALKAN PRIVASI&lt;br /&gt;Solusi yang lebih mudah untuk mengatasi "kegemaran" buka-buka dompet/tas tentulah tak meletakkan benda tersebut di tempat yang mudah dijangkau si kecil. Atau, bila memungkinkan, "belikan saja dompet sederhana yang ada gambar-gambar berkarakter lucu sesuai seleranya." Katakan padanya, "Ini dompet Ibu. Untuk Adek, nanti Ibu belikan yang baru yang ada gambarnya. Adek suka gambar Hello Kitty, kan? Nah, kita cari dompet yang ada gambar Hello Kittynya, ya." Dengan begitu, selain keinginannya terpenuhi, ia pun belajar mengenal mana miliknya dan mana yang bukan.&lt;br /&gt;Selain itu, tak ada salahnya si kecil dikenalkan pada konsep privasi dan sopan santun. Apalagi anak usia batita sudah mulai bersosialisasi. Misal, "Ini tas Tante Dina. Jangan dibuka-buka, ya, Dek." Hal ini juga mengajarkannya menghormati milik orang lain dengan tak mengusik atau mengambilnya. Dengan demikian, ia pun dibiasakan untuk bersibuk dengan "harta"nya sendiri, hingga tiap kali kedatangan tamu tak lagi mengadul-adul dompet atau isi tas si tamu.&lt;br /&gt;"Anak usia ini akan cepat teralihkan, kok, kalau diketahui, perilaku menggeratak dompet/tas sama sekali tak ada kaitannya dengan dorongan mencari perhatian. Sekalipun perilaku tersebut ditunjukkan kala kita kedatangan tamu. "Bukankah ketika tak diawasi dan tak dilibatkan dalam pembicaraan, anak akan mencari keasyikan sendiri?" ujar Jo. Jadi, tekannya, perilaku si kecil yang demikian semata-mata lantaran tak ada kegiatan lain yang menarik perhatiannya. "Anak usia segini, kan, memang ingin menjelajah dunia, makanya enggak bisa diam."&lt;br /&gt;Namun Jo tak bisa memastikan, apakah anak akan berhenti menggeratak bila rasa ingin tahunya terpuaskan dengan penjelasan dan pendampingan orang tua. "Ini proses alam dan umumnya akan berhenti dengan sendirinya, meski tiap anak bisa berbeda pada usia berapa akan berhenti." Cepat-tidaknya kebiasaan ini hilang sangat tergantung pada banyak aspek, diantaranya minat atau ketertarikan anak. "Makin banyak bidang minatnya, makin mudah ia meninggalkan kebiasaannya." Misal, sekarang ia lagi getol-getolnya menirukan ibu berdandan atau mengenakan lipstik. Kali lain, ia gemar main masak-masakan; sementara minggu-minggu berikutnya tergila-gila main sekolah-sekolahan, dan seterusnya. Faktor lain, beragamnya tokoh peniruan yang tak terbatas pada sosok ibu atau bapaknya saja.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, "kegemaran" buka-buka dompet/tas bisa jadi lantaran proses peniruan juga. Si kecil pasti pernah, dong, melihat kita atau orang lain membuka dompet atau mengeluarkan uang saat membayar belanjaan. "Nah, lewat proses imitasi atau peniruan inilah, ia ingin melakukan hal yang sama," tandas Jo.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;MENGOSONGKAN BENDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang bisa membantu kita memahami si kecil dalam kaitan dengan "kegemaran"nya buka-buka dompet/tas, yaitu: &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemampuannya mengosongkan benda-benda yang dijumpainya ternyata lebih dini dimiliki ketimbang kemampuannya mengembalikan isi benda tersebut ke tempat semula.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Baginya, kegiatan membongkar dan mengosongkan semacam itu bukan bahan lelucon yang boleh ditertawakan, melainkan "kerja" serius yang akan membantu mereka memahirkan keterampilan motorik halusnya dan mengembangkan kemampuan berpikirnya. &lt;/span&gt;Baginya, mengisi atau mengembalikan sesuatu ke tempat asalnya merupakan keterampilan yang lebih sulit dan tak terlalu memberi kepuasan ketimbang mengosongkan sesuatu. Jadi, jangan pernah berharap ia memasukkan benda-benda tertentu semahir ia mengeluarkan benda yang sama. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pahami ada masanya bagi si kecil sebelum ia mampu mengendalikan dorongan untuk mengobrak-abrik benda-benda "terlarang". &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membongkar atau mengosongkan segala sesuatu merupakan pengalaman belajar yang berharga baginya, meski sangat menjengkelkan atau bahkan merugikan orang lain. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengingat pentingnya tahapan ini, beri kesempatan pada anak untuk mengosongkan dompet tanpa bentakan atau larangan. Bila keberatan, sediakan benda serupa yang jauh lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-6380386709751360221?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/6380386709751360221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/gemar-mengosongkan-benda.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6380386709751360221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6380386709751360221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/gemar-mengosongkan-benda.html' title='GEMAR MENGOSONGKAN BENDA'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SZOQNEIxmjI/AAAAAAAAAW8/P20uV4LEhAs/s72-c/ak8301-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-146658497814375169</id><published>2009-02-07T16:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T18:33:37.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Bijaksana dalam Melarang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;Banyaknya  larangan, batasan, aturan  yang diberikan orangtua ke anak akan menghambat perkembangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat sejenis ini dapat Anda jumpai dalam berbagai artikel-artikel tentang pengasuhan anak. Saya yakin, para penulis artikel tersebut tidak bermaksud untuk menghalangi pa&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SY4mEp_BKkI/AAAAAAAAAWQ/PT41hok-_wE/s1600-h/885394-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 172px; height: 115px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SY4mEp_BKkI/AAAAAAAAAWQ/PT41hok-_wE/s320/885394-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300215672893155906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ra orangtua dalam melarang atau memberi aturan kepada anak-anaknya. Mereka hanya ingin menyampaikan atau menghimbau supaya kita, para orangtua, tidak ‘asal’ ucap dalam melarang anak-anaknya.&lt;br /&gt;Mungkin tanpa kita sadari, saat melarang atau membatasi anak, saat mereka melakukan sesuatu, kita terjebak dalam kebiasaan yang sudah terjadi dari generasi ke generasi. Sehingga apa yang kita ucapkan hanyalah buah dari suatu kebiasaan, tanpa ada suatu alasan yang mendasarinya dan tanpa memperhitungkan konsekuensi atau dampak larangan tersebut pada anak kita.&lt;br /&gt;Memang bukan suatu hal yang mudah untuk keluar dari suatu kebiasaan, namun bukan berarti tidak mungkin. Dibutuhkan kesadaran untuk merubah kebiasaan yang sudah terjadi secara turun temurun. ‘Sadar’ yang saya maksud adalah sadar dalam berkata-kata. Apa yang akan kita ucapkan dan apa konsekuensinya harus diketahui dahulu sebelum kata-kata disampaikan kepada anak kita.&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat yang mungkin bisa dijadikan acuan dalam melarang atau memberi batasan kepada anak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya  larangan, batasan, aturan  yang diberikan orangtua ke anak akan menghambat perkembangannya.&lt;br /&gt;Kalimat sejenis ini dapat Anda jumpai dalam berbagai artikel-artikel tentang pengasuhan anak. Saya yakin, para penulis artikel tersebut tidak bermaksud untuk menghalangi para orangtua dalam melarang atau memberi aturan kepada anak-anaknya. Mereka hanya ingin menyampaikan atau menghimbau supaya kita, para orangtua, tidak ‘asal’ ucap dalam melarang anak-anaknya.&lt;br /&gt;Mungkin tanpa kita sadari, saat melarang atau membatasi anak, saat mereka melakukan sesuatu, kita terjebak dalam kebiasaan yang sudah terjadi dari generasi ke generasi. Sehingga apa yang kita ucapkan hanyalah buah dari suatu kebiasaan, tanpa ada suatu alasan yang mendasarinya dan tanpa memperhitungkan konsekuensi atau dampak larangan tersebut pada anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan suatu hal yang mudah untuk keluar dari suatu kebiasaan, namun bukan berarti tidak mungkin. Dibutuhkan kesadaran untuk merubah kebiasaan yang sudah terjadi secara turun temurun. ‘Sadar’ yang saya maksud adalah sadar dalam berkata-kata. Apa yang akan kita ucapkan dan apa konsekuensinya harus diketahui dahulu sebelum kata-kata disampaikan kepada anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat yang mungkin bisa dijadikan acuan dalam melarang atau memberi batasan kepada anak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Anda tentukan sendiri mana larangan yang berkaitan erat dengan nilai-nilai  keluarga dengan yang bukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada hal-hal yang ‘tidak bisa ditawar’ yang berkaitan dengan nilai keluarga, seperti  kejujuran, menghargai privasi  orang lain, menepati janji dll. Dan bisa jadi setiap keluarga punya nilai yang berbeda. Dalam hal ini Anda harus tegas dalam melarang. Misalnya, melarang anak untuk tidak mengambil barang yang bukan miliknya tanpa ijin pemiliknya, melarang anak berbicara bohong dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tanyakan kepada diri Anda mengapa anda melarang anak Anda saat mereka melakukan sesuatu. “Mengapa saya melarangnya?” Kemukakan alasan Anda kepada mereka, bukan ketakutan Anda!.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Jika Anda melihat anak Anda berdiri/memanjat kursi, biasanya kalimat yang keluar adalah, “Turun, nanti kamu jatuh!”, kalimat ini bukanlah mengemukakan alasan Anda, tapi mengemukakan ketakutan Anda.&lt;br /&gt;Kalimat yang mengemukakan alasan misalnya, “Kursi ini tidak dinaiki, karena kaki-kakinya tidak sama panjangnya sehingga tidak stabil berdirinya” atau “Kursi ini sudah tua, tidak kuat menyangga badanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.   Jika memang Anda takut terjadi sesuatu pada anak Anda saat dia melakukan sesuatu, sebelum Anda melarangnya, dampingi dengan lebih dekat.&lt;/span&gt; Lihat, perhatikan dan awasi apa yang sedang ia kerjakan, bagaimana cara dia mengerjakan, apa alat yang digunakan, apakah membahayakan anak atau tidak. Jika anda merasa itu sudah membahayakan anak, segera beritahu dan tunjukkan apa bahayanya.&lt;br /&gt;Misalnya, saat anak bermain gunting, berikan gunting khusus untuk anak, perhatikan benar bagaimana dia mengunting. Saat dia ingin ikut memotong sayuran, berikan pisau yang tidak terlalu tajam, seperti pisau roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Konsisten dan konsekuen dengan larangan Anda. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itulah gunanya Anda harus sadar dengan apa yang diucapkan, karena jika tidak, bisa jadi Anda melakukan hal-hal yang dilarang. Dan hal itu berakibat kurang baik bagi perkembangan anak Anda apabila dia mengetahui orangtuanya tidak konsisten dan konsekuen dengan ucapannya. Misalnya, Anda melarang anak berbohong, tapi di suatu waktu Anda menyuruh anak Anda berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-146658497814375169?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/146658497814375169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/bijaksana-dalam-melarang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/146658497814375169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/146658497814375169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/bijaksana-dalam-melarang.html' title='Bijaksana dalam Melarang'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SY4mEp_BKkI/AAAAAAAAAWQ/PT41hok-_wE/s72-c/885394-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-5390004486055164783</id><published>2009-02-02T07:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T07:49:14.481-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>KEMAMPUAN BARU SI BATITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYcV61nZJPI/AAAAAAAAAWI/gm0EzqhSGU8/s1600-h/886656-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 123px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYcV61nZJPI/AAAAAAAAAWI/gm0EzqhSGU8/s320/886656-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298227587193578738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan batita selalu menarik untuk diikuti. Di usia ini selalu saja ada kemampuan baru yang dikuasainya setiap hari. Mungkin juga salah satu di antara 6 hal berikut ini adalah kemampuan yang baru dikuasai batita Anda. Apa sajakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1. MELAMBAIKAN TANGAN SAAT ADA YANG MENGATAKAN, "DAAHH...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ada orang yang melambaikan tangan sambil mengatakan, "Daahh...", batita sudah bisa membalas melambaikan tangan. Beberapa juga bisa mengatakan, "Daahh...," bahkan ada yang sudah bisa menirukan gerakan kiss bye alias mencium tangannya sebelum dilambaikan.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bagaimana batita memahami perintah ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat pengulangan aksi ini sehari-hari, batita bisa memahami kemudian menirukannya karena cara belajar batita adalah dengan meniru selain bereksplorasi. Ia bisa meniru suatu aksi jika melihatnya berulang kali. Terkadang ada yang sekali melihat, langsung meniru gerakan tangannya saja. Tapi biasanya untuk dikaitkan dengan kata, "Daahh...," perlu pengulangan beberapa kali.&lt;br /&gt;Menurut tokoh psikologi perkembangan kognitif, Jean Piaget, sejak usia 8 bulan ke atas, anak sudah mengembangkan perilaku yang memiliki maksud tertentu atau goal directed behavior. Jadi, anak sudah paham bahwa perilaku tertentu akan mengakibatkan reaksi tertentu. Contoh, ia tahu kalau ia menunjuk gelas, ibu akan mengambilkan air minum untuknya. Begitu juga dengan melambaikan tangan. Anak sudah paham jika saatnya berpisah, maka lambaikan tangan.&lt;br /&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;br /&gt;Cukup dengan pembiasaan saja. Setiap kali akan berpisah, tunjukkan lambaian tangan dan katakan, "Daahh...." Tunjukkan secara jelas pada anak bagaimana telapak tangan membuka dan lalu ucapkan, "Daahh...," secara perlahan agar jelas terdengar oleh anak dan mudah ditirukannya. Anak juga dapat dibantu dengan mengangkatkan tangannya lalu melambaikannya. Tapi jangan dengan paksaan. Karena jika dipaksa, anak malah menolak dan semakin tidak mau melakukannya.&lt;br /&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;br /&gt;Anak belum bisa melakukannya karena beberapa sebab, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;- Merasa dipaksa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solus&lt;/span&gt;i: Jadikan kegiatan ini sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kalau anak tidak mau, jangan memaksanya. Cukup lakukan di hadapannya sebagai contoh sampai terjadi pembiasaan.&lt;br /&gt;- Malu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solusi:&lt;/span&gt; Lakukan bersama-sama sehingga anak tidak merasa "aneh sendiri" saat melakukannya.&lt;br /&gt;- Ada hambatan pada otot tangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solusi&lt;/span&gt;: Untuk yang terakhir ini, orangtua dapat membantu anak dengan mengajak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan motoriknya seperti mengelap kaca sambil bermain, mencuci mobil sambil bermain, membelai boneka (agar telapak tangannya membuka), dan sebagainya.&lt;br /&gt;Tapi umumnya melambaikan tangan sambil mengatakan, "Daahh..." adalah kemampuan yang mudah dikuasai semua anak sehingga jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;2. MEMAHAMI PERINTAH SATU LANGKAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di usia ini anak sudah bisa memahami perintah satu langkah. Umpama, "Ambil bolanya," "Letakkan piringnya," "Minum susunya," dan perintah satu langkah lainnya.&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana batita memahami perintah satu langkah ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin berkembangnya kemampuan komunikasi khususnya perkembangan bahasa, anak dapat melakukan komunikasi dua arah atau interaktif. Dengan demikian ia mampu memahami bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan di balik instruksi yang ia dengar. Ketika orangtua mengatakan, "Ambil bolanya," anak akan mengambil bola dan memberikannya kepada orangtua. Anak batita tanpa gangguan pendengaran atau gangguan perkembangan lainnya, seperti ADHD dan autisma selayaknya dapat mengikuti perintah tunggal tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengajaknya bermain bersama, ada banyak rangsangan berupa instruksi yang dapat diberikan kepada anak. Orangtua juga bisa berganti peran dengan anak sehingga dapat memberikan contoh bagaimana cara melaksanakan instruksi. Mengikutsertakan anak dalam aktivitas "sekolah" atau kelompok bermain juga bermanfaat untuk melatih kemampuan ini.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena kemampuan ini terkait dengan kemampuan bahasa, maka orangtua harus terus memberikan stimulasi yang merangsang anak menambah database kosakatanya. Caranya dengan terus mengajaknya ngobrol, membacakan dongeng, mengajaknya bernyanyi, dan sebagainya. Sedangkan anak-anak yang memiliki gangguan pendengaran, gangguan konsenstrasi, dan autisma harus segera mendapat intervensi berupa penanganan yang komprehensif dari ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;3. PAHAM KEABADIAN OBJEK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak batita tahu bahwa kucing yang menghilang di balik pintu bukan benar-benar "lenyap" ditelan bumi, melainkan tetap ada meski tak terlihat lagi olehnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Bagaimana batita memahami keabadian objek ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Piaget, di usia 8-12 bulan, anak sudah paham tentang object permanence, yaitu benda tak akan hilang meskipun hilang dari pandangan mata. Di usia ini anak mulai mengembangkan skema perilakunya yang terjadi melalui pengalaman yang dialaminya sendiri. Dengan mengeksplorasi dan mengamati, dia akan tahu bahwa benda itu masih ada. Tapi jika benda tersebut dipindahkan dari tempat persembunyiannya ke tempat kedua, anak masih terus akan mencari di tempat pertama. Kemampuan ini terus berkembang sampai anak bisa paham permainan petak umpet di usia selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui permainan cilukba atau menyembunyikan suatu benda dengan saputangan, anak belajar keabadian objek. Tunjukkan pada anak begitu saputangan dibuka, ternyata bendanya masih ada.&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila tak ada gangguan khusus, pemahaman ini pasti bisa dikuasai anak dengan sendirinya. Jarang sekali perlu perlakuan khusus untuk melatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;4. PAHAM BEBERAPA EKSPRESI EMOSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di usia batita, anak paham beberapa ekspresi emosi sederhana, seperti marah, sedih, senang, antusias, terkejut.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bagaimana batita memahami ekspresi emosi ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ini didapat sejalan dengan perkembangan sistem saraf otak, pengalaman emosi dalam kehidupannya, reaksi/respons emosi dari orang-orang terdekatnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkan ekspresi emosi yang tepat untuk setiap kejadian dan sebutkan label emosinya. Misal, "Wow, Mama senang sekali karena kamu makan sampai habis!" Katakan ini dengan ekspresi muka berseri di hadapan anak. Bantu anak memahami perasaannya dengan menyebutkan label emosinya. Contoh, anak menangis karena mainannya rusak, orangtua bisa mengatakan, "Kamu sedih ya karena mainanmu rusak...."&lt;br /&gt;Orangtua juga bisa menstimulasi kemampuan ini melalui bahasa gambar. Sediakan beberapa gambar yang menunjukkan ekspresi sedih, senang, marah, antusias, terkejut. Minta anak untuk memilih gambar yang sesuai dengan apa yang dirasakannya saat itu.&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orangtua juga harus ekspresif terhadap emosinya sendiri, tapi tentu saja dengan ekspresi yang tepat dan tidak berlebihan. Orangtua juga harus jeli menangkap sinyal emosi anak lalu bantu ia memahami emosinya. Dengarkan keluhannya lalu identifikasikan emosi yang sedang ia rasakan dan beri masukan bagaimana reaksi/ekspresi yang tepat untuk emosi yang sedang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;5. MEMAHAMI ADA SESUATU DI DALAM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak tahu bahwa dalam lemarinya tersimpan pakaian-pakaiannya, di dalam boks mainan ada mainan-mainannya, di dalam kulkas ada makanan dan sebagainya.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bagaimana batita bisa memahami ada sesuatu dalam sesuatu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengalaman dan pengamatan sehari-hari, anak paham bahwa di dalam sesuatu mungkin ada sesuatu. Setiap hari ia melihat ibu atau pengasuhnya membuka kulkas lalu mengambil makanan dari dalamnya, atau membuka lemari dan mengambilkan pakaian untuknya. Itu semua membuatnya mengerti bahwa di dalam wadah tertutup ada ruang untuk menyimpan sesuatu.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sambil membuka kulkas, orangtua bisa mengatakan, "Mama mau mengambil keju dari dalam kulkas, Adek mau?" Jelaskan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak apa yang tengah dilakukan supaya ia lebih mudah mengerti. Bisa juga melalui latihan, umpamanya, "Ayo, Adek buka lemarinya, biar Mama ambilkan bajunya." Atau, "Yuk, kita masukkan mainan yang sudah selesai digunakan ini ke dalam boksnya."&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ulang-ulang terus stimulasi di atas setiap ada kesempatan. Bisa juga saat membacakan dongeng, orangtua menjelaskan bahwa&lt;br /&gt;dalam sesuatu yang tertutup bisa jadi ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;6. PAHAM FUNGSI SUATU BENDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batita paham beberapa fungsi benda, semisal sepatu untuk alas kaki, bantal untuk tidur, piring untuk makan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Bagaimana batita bisa memahami fungsi suatu benda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua benda yang bersinggungan atau digunakan dalam aktivitas sehari-harinya, seperti saat makan, mandi, tidur, bermain, satu per satu akan dipahami fungsinya. Hal ini terjadi melalui pengamatan, pembiasaan dan peniruan. Ia melihat sebelum pergi orangtuanya selalu mengenakan sepatu, ia jadi paham bahwa sepatu adalah alas kaki yang harus digunakannya untuk bepergian, begitu juga dengan benda-benda lainnya.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Stimulasi apa yang bisa diberikan untuk melatih pemahaman ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengenalkan benda yang digunakan sehari-hari, sebutkan fungsinya dan peragakan cara menggunakannya. Lakukan ini ketika anak mulai belajar bicara, sekaligus untuk menambah kosakatanya. Umpamanya waktu mandi, "Mana sabun mandinya? Oh, ini ya? Yuk, Mama sabuni dulu supaya badan Adek jadi bersih dan wangi."&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Bila anak belum bisa melakukannya, apa yang harus dilakukan orangtua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara umum anak pasti akan memahami benda-benda yang digunakannya dalam keseharian. Lakukan terus stimulasi di atas bila anak belum juga paham.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-5390004486055164783?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/5390004486055164783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/kemampuan-baru-si-batita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5390004486055164783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5390004486055164783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/02/kemampuan-baru-si-batita.html' title='KEMAMPUAN BARU SI BATITA'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYcV61nZJPI/AAAAAAAAAWI/gm0EzqhSGU8/s72-c/886656-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-4119186907546787657</id><published>2009-01-25T23:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T23:38:58.945-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>MENGAJARKAN MINTA MAAF</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SX1ogjpPfeI/AAAAAAAAAVI/3r9cyoLt-RU/s1600-h/886704-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 114px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SX1ogjpPfeI/AAAAAAAAAVI/3r9cyoLt-RU/s320/886704-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295503645390896610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minta maaf atau menyesal terlalu rumit dilakukan anak-anak, karena menurut Grady, MC, NCC., pakar konseling anak, di usia batita anak sedang berada pada fase egosentris dan belum mampu melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain. Baginya selama sesuatu tidak membuatnya kecewa, tidak mengusik barang-barang yang sedang digunakannya, berarti tidak ada masalah. Jadi kalaupun ia menumpahkan sirop ke baju tamu mamanya, merusakkan mainan, membuat adiknya menangis, itu bukan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;PEMBIASAAN DULU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, anak tetap harus diajarkan minta maaf, "Terlepas dari mengerti atau tidak, anak tetap harus dibiasakan untuk minta maaf saat melakukan kesalahan. Yang penting pembiasaannya dulu, seiring dengan bertambahnya usia, ia akan mengerti konsep maaf," kata Anna Surti Ariani, Psi., yang berpraktik di beberapa tempat konseling psikologi di Jakarta.&lt;br /&gt;Pembiasaan ini penting agar anak kelak memperoleh manfaatnya, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Mengeluarkan diri dari rasa bersalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya minta maaf adalah cara seseorang mengeluarkan diri dari rasa bersalah. Dengan meminta maaf diharapkan seseorang menyadari kesalahan dan muncul tekad untuk tidak mengulanginya lagi. Meski konsep ini masih sulit dipahami batita, tapi seiring dengan bertambahnya usia ia akan mengerti.&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Melepas ketegangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun suasana menjadi tidak nyaman saat ada seseorang melakukan kesalahan. Umpamanya, Nouval yang menumpahkan sirop ke baju tamu, sejenak pasti muncul ketegangan, si tamu terpekik kaget, sang mama sibuk mengambil tisu dan tergopoh-gopoh minta maaf. Meski mungkin belum mengerti tapi anak tetap bisa merasakan ketegangan suasana. Nah, dengan minta maaf, segalanya bisa cair kembali. Anak pun akan mengamati, mamanya yang tadi cemberut setelah mendengar ia mengucapkan, "maaf," bisa tersenyum kembali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Memperbaiki hubungan dengan orang yang tersakiti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan minta maaf anak mempunyai "pintu" untuk memperbaiki hubungannya dengan orang yang tersakiti. Contoh, ia tak sengaja merusak mainan temannya, setelah minta maaf sang teman mau bermain lagi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;4 LANGKAH SEDERHANA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mudahnya, berikut 5 langkah sederhana cara membiasakan batita minta maaf:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Contoh langsung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Contohkan bagaimana seharusnya kata maaf diucapkan. Misal, orangtua tak sengaja menumpahkan susu anak, katakan, "Maaf ya, Sayang, Mama tidak sengaja menumpahkan susumu." Begitu juga dengan kesalahan lain yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan anak terbiasa melihat orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Tunjukkan penyesalan dengan bahasa tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lakukan kontak mata saat mengucapkan kata maaf, sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Menggenggam tangan, memeluk erat, atau mencium juga akan dicontoh anak saat orangtua minta maaf dengan bahasa tubuh seperti itu. Namun sebagai catatan, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan hanya boleh diberikan pada papa/mama/kakak/adik, sedangkan untuk teman/saudara/orang lain cukup dengan bersalaman. Bahasa tubuh juga efektif untuk batita yang komunikasi verbalnya belum lancar sehingga belum bisa mengucapkan kata maaf.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Dorong supaya bertanggung jawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain mengucapkan maaf, minta anak untuk "bertanggung jawab" atas kesalahan yang dilakukannya. Umpama, ia menyenggol temannya sampai jatuh. Nah setelah minta maaf, jika temannya terluka, minta si kecil menyodorkan tisu/plester. Ini sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Berikan apresiasi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HAL-HAL PENTING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak mengucapkan kata maaf, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, seperti, "Wah, pintar, kamu sudah bisa minta maaf." Hal tersebut sekaligus sebagai penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.&lt;br /&gt;Selain cara, orangtua juga harus mengajarkan kapan kata maaf itu diucapkan, yakni saat menyusahkan orang lain, mencelakai orang lain, melanggar janji, melakukan hal-hal yang sudah dilarang, melakukan hal-hal yang tidak disukai orang lain, dan sebagainya. Dengan begitu, yang ditekankan adalah pesan untuk tidak mengulangi kesalahan, bukan semata-mata minta maaf tanpa mengerti alasannya.&lt;br /&gt;Apa jadinya kalau anak yang bersalah tidak dibiasakan meminta maaf?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anak tidak disukai dalam pergaulannya karena tidak biasa minta maaf setelah melakukan kesalahan. Ini akan berakibat pada perkembangan sosialnya. Apalagi kalau sikap masa bodoh ini terbawa sampai usia dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perkembangan emosinya tidak optimal karena dengan tidak mengakui kesalahan, ia tidak bisa menilai dirinya secara pas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-4119186907546787657?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/4119186907546787657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/mengajarkan-minta-maaf.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4119186907546787657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4119186907546787657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/mengajarkan-minta-maaf.html' title='MENGAJARKAN MINTA MAAF'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SX1ogjpPfeI/AAAAAAAAAVI/3r9cyoLt-RU/s72-c/886704-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-8037103360391180672</id><published>2009-01-17T13:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T14:07:39.434-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Peniruan Verbal Pada Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SXJWiI4mmdI/AAAAAAAAAUc/62m7Q7E3nZI/s1600-h/bc4154-002.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 88px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SXJWiI4mmdI/AAAAAAAAAUc/62m7Q7E3nZI/s320/bc4154-002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292387656614189522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meniru sudah terjadi sejak anak mulai menyadari berbagai rangsang di sekitarnya. Peniruan merupakan salah satu cara anak belajar tentang diri dan lingkungannya. Paling sederhana, saat anak belajar berbahasa atau bicara. Tanpa peniruan atau modeling, anak tidak akan mampu mengembangkan kemampuannya sesuai dengan tuntutan lingkungan. Masalahnya, yang ditiru si kecil tidaklah selalu positif. Yang jelek-jelek juga ditiru dan kerap menjadi favoritnya; sudah dilarang, eh masih dilakukan lagi. &lt;br /&gt;Peniruan Verbal&lt;br /&gt;Peniruan verbal sebetulnya merupakan dasar bagi batita untuk belajar berbahasa. Dasar perkembangan kemampuan berbahasa anak sudah ada saat usia 1-3 bulan (kala bayi membunyikan cooing berupa "oooo" atau "uuuuhhh"). Mendekati usia 2 tahun, kemampuan berbahasanya meningkat menjadi 2-3 kata, seperti "sayang mama", "mau mamam", "minta susu", "yuk sini yuk," dan sebagainya. Nah, menjelang 3 tahun, perbendaharaan katanya semakin banyak. Anak pun mampu merangkai 3-4 kata sekaligus menjadi kalimat. Misal, "Adek mau main bola." &lt;br /&gt;Kemajuan pesat inilah yang membuat si batita tertantang untuk menjajal kemampuan tersebut, termasuk dengan "membeo" yang merupakan hal alami dan bermanfaat. Kemampuannya untuk mengekspresikan sesuatu pun bisa lebih terlatih, sehingga kosakata anak semakin bertambah. &lt;br /&gt;Daya tangkap si batita yang semakin solid dan terus berkembang menjadikan anak lebih gampang menangkap kata-kata yang didengar dalam kesehariannya. Kata-kata "baru" itu pun lantas ditirunya. Tidak melakukan peniruan verbal justru merupakan indikator bahwa anak belum bisa mengeluarkan bunyi yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Orangtua harus waspada. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;VERBAL NEGATIF&lt;br /&gt;Jika suatu saat si batita menirukan kata-kata berkonotasi negatif atau kasar, itu karena ia sekadar menirukan saja. Ia belum memiliki kemampuan membedakan kata yang dianggap baik dan buruk karena ia pun belum paham kalau apa yang diucapkannya adalah sesuatu yang buruk. Ini berkaitan dengan kemampuan berpikirnya yang masih terbatas. Meski begitu, peniruan verbal yang negatif harus segera dihentikan sebab kalau tidak lingkungan akan memberi sanksi dengan menganggapnya sebagai anak yang tidak sopan. &lt;br /&gt;Sumber peniruan kata-kata kasar atau jorok terutama adalah lingkungan sekitar, seperti acara televisi, teman (karena anak mulai belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya), bahkan orang di rumah. Dalam interaksi tersebut tak jarang anak memungut kata-kata baru, termasuk kata-kata yang kasar dan kotor. Nah, kalau itu yang terjadi pada si kecil, ada beberapa kiat untuk mengatasinya: &lt;br /&gt;* Menjadi mentor bagi anak untuk memberi tahu kata mana yang tepat dan tidak. Penjelasan yang konsisten akan membuat anak memahami apa yang boleh dan tidak boleh. Doronglah anak untuk meniru kata-kata atau kalimat yang baik dan santun, seperti "permisi", "selamat siang", "terima kasih," dan sebagainya. &lt;br /&gt;* Beri konsekuensi. Pada dasarnya, setiap meniru secara verbal merupakan perilaku. Prinsipnya, apa pun perilaku yang ditampilkan anak akan selalu diiringi konsekuensi. Jadi, orangtua harus memberi pujian dan penghargaan pada anak, jangan mengabaikan anak bila ia memamerkan kemampuannya mengucapkan kata-kata yang baik. Sehingga membuatnya terbiasa mengucapkan kata-kata yang indah, seperti "I love you Mama" atau "terima kasih." &lt;br /&gt;* Orangtua harus menjadi model bagi anak dengan rajin mengucapkan kata-kata indah di depan anak, suami, bahkan pembantu. Jangan lupa, orangtua tetaplah guru terbaik bagi anak-anaknya. Perhatikan perilaku Anda sendiri sebelum memantau perilaku anak. &lt;br /&gt;* Tanyakan pada anak apa maksud kata-kata kasar atau tak senonoh yang diucapkannya. Buktikan bahwa ia hanya membeo tanpa tahu maknanya. Misalnya saja, si kecil membuat kejutan dengan berteriak, "Bangsat!" Tanyakan dari mana ia mendapatkan kata tersebut. &lt;br /&gt;* Menghentikan ujaran negatif bukan dengan menghukum, memarahi, atau menegur keras anak. Cara seperti itu hanya akan mendorongnya mengulangi kata-kata buruk karena anak malah merasa diperhatikan lebih. &lt;br /&gt;* Koreksi ucapan anak, dengan mencontohkan pilihan kata yang baik. Umpama, "Dasar bangsat" diganti dengan "Dia nakal, sudah ambil mainanku," yang lebih enak didengar. &lt;br /&gt;* Bila di lain waktu ia mengulang lagi kalimat tersebut, abaikan saja seolah ia tidak sedang bicara apa pun. Maklum anak senang mencoba-coba untuk melihat reaksi orangtua. Anak sudah mampu memanipulasi orang lain sejak usianya 2 tahun. Pastikan Anda sedang tidak dimanipulasi si kecil dengan kata-katanya. &lt;br /&gt;* Jika ditegur berulang kali tak mempan, terapkan hukuman yang sifatnya mendidik seperti tidak boleh main sepeda, tidak nonton teve, dan lainnya. &lt;br /&gt;* Lakukan seleksi terhadap tayangan audio visual bagi anak dan dampingi saat ia menyaksikannya. Mintalah anak mengungkapkan apa yang dilihatnya dengan terlebih dahulu menjelaskan apa yang disaksikannya di layar. &lt;br /&gt;* Bila ia mengucapkan kata-kata yang tak baik alihkan perhatiannya dengan kegiatan lain yang disukainya, seperti bermain bola di taman. &lt;br /&gt;* Cari kata pengganti yang baik.&lt;br /&gt;Peniruan Perilaku&lt;br /&gt;Tidak ada perilaku anak yang merupakan bawaan sejak lahir. Semuanya terbentuk dari lingkungan. Batasan perilaku positif atau negatif ditentukan oleh standar norma yang berlaku. Pastikan perilaku yang ditampilkan anak sesuai dengan lingkungan keluarga dan tempat tinggal. &lt;br /&gt;Meniru membuat anak belajar banyak tentang lingkungan, yang dampaknya memengaruhi perkembangan kecerdasannya. Perilaku yang kerap ditampilkan anak akan menjadi kebiasaan baginya. Kebiasaan akan menjadi bagian dari karakter anak. Untuk itu bila ingin memiliki anak dengan karakter yang dapat diterima, ciptakan lingkungan yang tepat dan mendidik bagi anak. &lt;br /&gt;Kalau ada perilaku negatif yang muncul, seperti bicara kasar, memukul, menjambak, atau menendang, hentikan dengan memberi pemahaman dan konsekuensi yang tepat. Sangat mungkin sebelumnya anak pernah melihat contoh nyata dalam lingkup keluarga atau teman sebayanya yang memukul teman lain kala berebut mainan. Atau ia pernah menyaksikan adegan pemukulan di televisi. Jangan lupa, anak akan meniru apa yang dilihatnya. &lt;br /&gt;Jika orangtua membiarkan anak bersikap agresif dikhawatirkan citra dirinya akan negatif, contoh ia bisa dianggap nakal kemudian dijauhi teman-teman. Perilaku ini juga akan membuat sifat agresivitasnya bakal menetap. Bukan tidak mungkin anak pun akan mudah melakukan tindak agresif kelak saat dewasa. &lt;br /&gt;MENGATASI PERILAKU NEGATIF&lt;br /&gt;Pada dasarnya, perilaku baik atau buruk akan bertahan, bila lingkungan memberi konsekuensi yang menyenangkan pada anak. Sebaliknya, perilaku akan hilang bila tidak diperkuat dengan konsekuensi yang diharapkan oleh anak. Berikut beberapa hal yang dapat orangtua lakukan untuk mengatasi peniruan perilaku negatif: &lt;br /&gt;Jelaskan dengan lemah lembut, bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. Beri penjelasan tanpa memarahi atau mempermalukannya. &lt;br /&gt;1. Alihkan perhatiannya. Biasanya di usia ini emosi anak bisa dengan segera dialihkan perhatiannya. Bila ia meniru perilaku memukul alihkan pada permainan lain. Tentunya butuh kreativitas orangtua untuk memilihkan apa yang bisa menarik perhatian anak.&lt;br /&gt;2. Beri contoh yang baik. Jika berharap anak tidak meniru perilaku negatif semisal memukul maka orangtua pun harus memberi contoh yang baik. Caranya dengan menihilkan tindak agresif yang hanya akan menjadi ajang peniruan anak. Jika misalnya ia menunjukkan rasa sayang atau gemas, caranya bukan dengan perilaku agresif seperti menggigit-gigit, melainkan dengan mencium, memeluk dan lainnya. &lt;br /&gt;3. Beri penghargaan. Bila anak melakukan perilaku yang positif, dapat menahan sikap negatifnya, berilah penghargaan dengan memuji, membelai atau memberi ciuman. Dengan begitu anak akan lebih termotivasi untuk bersikap manis. &lt;br /&gt;4. Komunikasikan setiap aturan kepada anak. Misalnya, anak boleh bermain tapi tak boleh menggigit atau memukul. &lt;br /&gt;5. Ajari anak untuk menyatakan perasaannya. Hal ini akan dapat meminimalkan anak dari perilaku peniruan agresif.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dra. Roslina Verauli, M.Psi., dari Empati Development Centre, Jakarta.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-8037103360391180672?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/8037103360391180672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/peniruan-verbal-pada-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8037103360391180672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/8037103360391180672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/peniruan-verbal-pada-anak.html' title='Peniruan Verbal Pada Anak'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SXJWiI4mmdI/AAAAAAAAAUc/62m7Q7E3nZI/s72-c/bc4154-002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-5262718659529297219</id><published>2009-01-11T12:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T12:49:50.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Penanaman disiplin memang harus konsisten</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWpbYVmtscI/AAAAAAAAARE/TckNC6xxeeM/s1600-h/kekerasan,19.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWpbYVmtscI/AAAAAAAAARE/TckNC6xxeeM/s400/kekerasan,19.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290141185974579650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.&lt;br /&gt;Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur". &lt;br /&gt;Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BERBAGAI ALASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia. &lt;br /&gt;"Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?" tanya saya.&lt;br /&gt;"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.&lt;br /&gt;"Ada sebab lainnya lagi tidak?" tanya saya kembali.&lt;br /&gt;"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."&lt;br /&gt;"Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?"&lt;br /&gt;"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya." &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;POSITIF-NEGATIF&lt;br /&gt;Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."&lt;br /&gt;Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat." &lt;br /&gt;Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat. &lt;br /&gt;VARIASI, DONG...&lt;br /&gt;"Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?" tanya saya segera.&lt;br /&gt;"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia. &lt;br /&gt;Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia. &lt;br /&gt;"Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."&lt;br /&gt;Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya. &lt;br /&gt;Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai "sekaku" itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.&lt;br /&gt;Dedeh Kurniasih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-5262718659529297219?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/5262718659529297219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/penanaman-disiplin-memang-harus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5262718659529297219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/5262718659529297219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/penanaman-disiplin-memang-harus.html' title='Penanaman disiplin memang harus konsisten'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWpbYVmtscI/AAAAAAAAARE/TckNC6xxeeM/s72-c/kekerasan,19.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-2912958768056621968</id><published>2009-01-08T10:22:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T10:28:20.568-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>EKSPRESI EMOSI KHAS BATITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWZFsYRVutI/AAAAAAAAAPc/bQaBpVJDqIc/s1600-h/885757-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 172px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWZFsYRVutI/AAAAAAAAAPc/bQaBpVJDqIc/s400/885757-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288991441124965074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masa batita adalah periode paling progresif. Ada saja kemajuan yang dialami si kecil setiap hari. Lihat saja, anak bisa berjalan, tumbuh beberapa gigi sekaligus, mulai bicara, tertawa terbahak-bahak, belajar makan sendiri, menolak instruksi, dan juga merajuk. Perkembangan ini meliputi fisik dan emosinya. Namun, tidak semua orangtua siap dengan perkembangan emosional batitanya sehingga sering kali merasa kewalahan.&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena kunci kesiapan menghadapi perkembangan emosi adalah pemahaman. Inilah yang sering tidak dimiliki orangtua. Ketahuilah, di usia batita anak berkembang ke arah kemandirian. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu. Dukungan dan kesabaran dari orangtua penting untuk membantu anak mencapai tugas perkembangan tersebut. Bila yang diberikan adalah atensi negatif, seperti memarahi, menyalahkan, melarang, dan seterusnya yang berkembang adalah rasa ragu-ragu dan takut, atau sebaliknya. Nah, dengan memahami 8 ekspresi emosi khas batita berikut ini orangtua bisa memberikan respons yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. DEMONSTRASI KASIH SAYANG &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak usia ini senang mengeksplorasi berbagai perasaan menyenangkan yang timbul dari kontak fisik. Coba perhatikan setiap kali orangtua membuka tangan, batita pasti akan berlari menghampiri untuk masuk dalam pelukan orangtunya. Bahkan film untuk batita, Teletubbies, menjadikan adegan ini sebagai tema sentralnya, mereka selalu berseru, "Berpelukan..." setiap kali memulai/selesai melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batita senang mendapatkan pelukan, ciuman, didekap, disentuh dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orangtua harus menyiapkan diri menyambut ekspresi sayang yang demonstratif ini dengan memberikan respons yang tepat seperti balas menciumnya, mengungkapkan rasa cinta dengan bahasa verbal, mengucapkan terima kasih setelah dicium, dan sebagainya. Jangan ada penolakan, karena batita akan mengingatnya sebagai memori buruk. Umpamanya, anak memeluk orangtua dari belakang, tapi orangtua meresponsnya dengan penolakan, "Aduh, Naura, tangan kamu kotor," ini respons yang tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. PERHATIAN SECARA PERSONAL &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batita selalu menuntut perhatian secara personal sebab di usia ini anak sedang berada dalam fase egosentris. Ia ingin semua menjadi miliknya dan hanya untuk dirinya. Sekadar mendapat perhatian sekali atau sambil lalu tentu tak cukup baginya, ia akan berusaha memastikan bahwa orangtua memberikan perhatian padanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minta perhatian saat orangtuanya menelepon sekadar untuk menunjukkan mainan yang sama berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikan perhatian secukupnya. Tunjukkan bahwa orangtua sudah tahu maksudnya dan sekarang sedang mengerjakan hal lain. Kalau ia ingin menunjukkan sesuatu, nanti ada waktunya lagi. "Oh, iya Sayang, bonekanya bagus ya, tapi sekarang Mama telepon dulu. Nanti selesai telepon baru kita main lagi. Sekarang Adek duduk dulu di sini di sebelah Mama."&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. MOOD GAMPANG BERUBAH &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak batita sangat moody. Mudah baginya berganti suasana hati dalam waktu sekejap. Di usia ini anak mulai sadar bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dari orangtuanya sehingga segala sesuatunya ingin dilakukan sendiri. Sementara di sisi lain kemampuannya masih sangat terbatas. Dua hal ini sering kali membuat suasana hantinya gampang berubah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belum kering airmata karena menangis minta susu, setelah susunya diberikan, ia bisa tertawa geli.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selalu bersikap tenang dan senantiasa memberikan jalan keluar atas masalah yang sedang dialaminya. Kenali tangisan anak, misalnya karena lapar dan ingin susu, segera berikan. Dengan demikian ia tak menjadi frustrasi karena keinginannya tidak terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. CAPER ALIAS CARI PERHATIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu ekspresi emosi yang khas dimiliki anak batita. Ia senang sekali "pamer" kemampuan. Pahadal sesuai tahapan perkembangannya, ada saja kemampuan baru yang dikuasainya hampir setiap hari. Jadilah anak terlihat senang cari perhatian alias caper.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah bisa makan sendiri, ia akan menunjukkan pada siapa saja yang datang ke rumah akan kebisaannya yang baru ini. Begitu juga saat bisa menggambar sesuatu, mengoperasikan mainan barunya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapkan diri untuk menjadi penonton yang baik dan jangan pelit pujian. Asah terus kemampuan anak supaya makin sempurna. Berikan contoh bagaimana melakukan segala sesuatunya dengan benar. Untuk contoh di atas, tunjukkan padanya bagaimana menggenggam sendok dengan benar lalu menyuapkannya ke mulut. Sehingga tak sekadar pujian, tapi makin lama kemampuan makannya makin baik: makin banyak yang masuk ke mulut dan makin sedikit yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. SUKA MENYENGAJA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Batita suka menyengaja. Ini dilakukan semata-mata untuk melihat repons sekelilingnya. Bisa juga karena anak belum paham risiko dari perbuatannya, tapi mungkin juga anak sekadar menikmati reaksi yang ditampilkan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lantai habis dipel dan masih licin, ia sudah diperingatkan untuk tidak melintasinya, tapi ia malah sengaja mondar-mandir untuk melihat reaksi orangtuanya. Makin heboh reaksi yang ditunjukkan orangtua, makin bersemangatlah ia melakukannya. Tapi mungkin juga anak belum paham kalau melintasi lantai licin risikonya bisa terpeleset dan jatuh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikan pemahaman dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami anak. Bila perlu, tunjukkan dengan contoh, semisal orangtua pura-pura jatuh dan mengaduh kesakitan. "Aduh, sakit ya jatuh terpeleset." Orangtua harus mempunyai kesabaran ekstra. Jangan heboh menghadapi kelakuan ini, sebab bisa jadi yang ditunggu anak adalah respons orangtua. Peringatkan dengan lembut namun tegas bila anak masih terus mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. MELEMPAR SESUATU SAAT MARAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di usia ini anak belum bisa mengendalikan emosinya secara sempurna tapi kemampuan motoriknya, terutama melempar benda, sudah bisa dilakukan. Akibatnya saat marah, ia melempar benda-benda yang ada di sekitarnya. Tak hanya di waktu marah, bila ada kesempatan, anak usia ini suka melempar/menjatuh-jatuhkan benda. Hal ini terkait dengan tahapan perkembangan motoriknya. Sementara terkait dengan kemampuan verbalnya, anak belum bisa mengungkapkan apa yang membuatnya marah. Sekali-dua kali ia melempar benda saat marah dan orangtua segera memberikan perhatian, maka tiap kali ia merasakan gejolak emosi yang sama, ia mengulang tindakan tersebut sebagai ungkapan kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak ingin minum susu, sudah berulang merengek tapi belum juga dibuatkan oleh orangtua, akibatnya anak marah dengan melempar botol susunya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang dibutuhkan anak adalah contoh bagaimana menyalurkan emosi dengan tepat. Ajarkan padanya untuk menyampaikan keinginannya. Meski kemampuan verbalnya masih terbatas, tapi orangtua bisa membantunya dengan menggunakan bahasa tubuh. Contoh, "Kalau Adek cuma merengek, Mama enggak ngerti maksudnya. Kalau Adek mau susu, berikan saja botol kosong ini ke Mama, nanti Mama buatkan lagi," sambil tunjukkan bagaimana botol kosong itu diberikan pada orangtua. Selain itu latih anak menyalurkan ekspresi emosi dengan tepat, misalnya menggambar, bernyanyi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. KERAS KEPALA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, di usia ini anak sedang berada pada fase egosentris. Anak maunya menang sendiri dan keras kepala. Apa yang sudah jadi keinginannya seakan tak terbantahkan. Ini adalah bagian dari perkembangan yang wajar, tiap anak pasti mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat orangtuanya makan sesuatu, anak memaksa meminta. Padahal sudah dijelaskan kalau yang dimakan itu pedas, misalnya, tapi tetap saja ia keras kepala. Begitu diberikan secuil, langsung dilepehnya karena pedas.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesekali biarkan anak merasakan apa yang diinginkannya selama tidak membahayakan, misalnya rasa pedas seperti contoh di atas, dingin, panas, dan sebagainya. Dengan merasakan langsung biasanya anak jadi "kapok". Selain itu latih terus kemampuannya untuk bersosialisasi, berbagi, mengantre, bergiliran dan sebagainya. Latihan-latihan ini bermanfaat untuk mereduksi keras kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. NARSISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak batita "narsis" mengagumi diri sendiri? Jangan salah, anak usia ini selalu merasa dirinya yang paling baik, pintar, cantik/ganteng, disayang dan sebagainya sehingga ia merasa berhak atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh sikap:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau orangtua memberikan pujian atau menunjukkan ekspresi kekaguman pada kakak/adik/anak lain, ia akan marah sebagai ungkapan rasa cemburu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respons yang tepat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikan pujian secara wajar, umpamanya dengan tidak mengatakan, "Wah, anak Mama memang paling ganteng sedunia." Tunjukkan bahwa di luar dirinya ada juga anak lain yang berhak mendapat pujian. Contoh, "Oh, iya Adek pintar ya, makannya bisa habis. Ini Mas Rangga juga pintar karena makannya juga habis." Orangtua yang terlalu sering memuji secara berlebihan akan membuat bibit narsisme makin subur dalam diri anak, sehingga dalam jangka panjang bukan tak mungkin membuatnya kesulitan melihat/menerima kelebihan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-2912958768056621968?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/2912958768056621968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/ekspresi-emosi-khas-batita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/2912958768056621968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/2912958768056621968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/ekspresi-emosi-khas-batita.html' title='EKSPRESI EMOSI KHAS BATITA'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWZFsYRVutI/AAAAAAAAAPc/bQaBpVJDqIc/s72-c/885757-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-2542176678782033109</id><published>2009-01-05T14:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T14:44:12.250-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tip Mengasuh Anak'/><title type='text'>Mengasuh Anak Bukan Hal Sepele</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWKM76-MfII/AAAAAAAAAPE/vbXLvNnbq1w/s1600-h/827010-005.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 172px; height: 115px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWKM76-MfII/AAAAAAAAAPE/vbXLvNnbq1w/s320/827010-005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287943873556675714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BETAPA pentingnya peran orangtua dalam membesarkan dan mengasuh anak, tak diragukan lagi. Berbagai perkembangan anak, mulai fisik, kognisi, emosi, sosial, termasuk harga diri anak, rasa percaya diri dan identitas jender, sangat dipengaruhi orangtua dalam menerapkan pola asuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh masalah seorang anak gadis yang telah mendapatkan pola asuh tidak tepat dari orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yth Ibu Agustine,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya gadis (22) yang sedang bergumul dengan permasalahan psikologis amat kompleks. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya laki-laki, usia 20 tahun. Sejak kecil, semua keperluan saya dan adik diurus Ibu. Kehadiran Ayah hanya bersifat fisik saja. Bisa dikatakan, kami tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ayah.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski demikian, hubungan kami dengan Ibu juga tidak terlalu ”dekat”. Adakalanya kami bisa tertawa bersama, tetapi saya tidak pernah merasa nyaman berbagi semua.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beberapa tahun belakangan Ibu semakin dominan karena Ayah tidak lagi bekerja. Saya merasa Ibu demikian sayang dan memerhatikan anak-anaknya sehingga sering kali sikapnya demikian ”aneh”. Bahasa hiperbolanya, Ibu semakin memantapkan posisinya sebagai ”diktator” yang mengatur kehidupan anak-anaknya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hal tersebut membuat saya dan adik makin hari makin tertekan. Akibatnya, kami sering melakukan hal-hal tertentu tanpa sepengetahuan Ibu. Belakangan saya sering merasa emosi saya tidak stabil. Saya bisa menjadi orang yang tegar, kuat, dominan, dan keras di satu sisi, tetapi adakalanya saya merasa demikian lemah, manja, dan mau enak sendiri.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau sudah begini, saya bisa menjadi pribadi kejam dan penuntut, berbohong, melakukan apa saja untuk mendapat yang saya inginkan. Saya juga kadang terdorong berbuat kekerasan (walaupun masih dalam skala kecil). Yang jelas, saya tipe orang introver.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya jatuh cinta pertama kali pada usia 10 tahun (cinta yang juga disertai gairah seksual, bukan pula cinta monyet) kepada sahabat perempuan saya, sebut saja X. Di sisi dia, saya merasa hangat. Saya selalu ingin melindungi dan membuat dia tersenyum. Saya mencintai dia seperti lelaki mencintai perempuan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pada usia sekarang, saya baru menyadari, mungkin salah satu hal yang membuat saya tertarik kepada X adalah karena saya merasa menemukan ”dunia baru” dalam dirinya, sesuatu yang tidak pernah saya dapat di rumah. Makin dewasa, saya makin menyadari saya tidak tertarik &lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dengan laki-laki dan hanya tertarik kepada perempuan, baik secara fisik maupun emosional.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya jatuh cinta kedua kalinya pada usia 20 tahun kepada Y. Dia memperlakukan saya seolah-olah saya pribadi yang butuh ”perlindungan”. Dia melindungi dan mencintai saya seperti laki-laki mencintai perempuan. Saya merasa nyaman, aman, tenang bersama Y. Berbeda dengan yang pertama, kali ini saya mencintai Y seperti perempuan mencintai laki-laki. Kedua perjalanan cinta saya kandas di tengah jalan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya pernah berhubungan seksual dengan Y. Masturbasi juga terkadang saya lakukan. Yang agak meresahkan, makin hari saya makin bergairah dengan fantasi bernada kekerasan. Membayangkan saya atau tokoh idola saya atau Y (bukan X) sebagai ”korban” kekerasan fisik benar-benar memicu gairah saya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya bingung dengan semua yang terjadi. Menurut Ibu, sebenarnya ada apa dengan diri saya? Adakah yang salah? Hal apa yang mesti saya perbuat dan bagaimana saya menghadapi permasalahan ini agar tidak membuat saya makin ”terpuruk”? Saya benar-benar ingin semua yang saya alami bisa menuntun saya pada pemikiran lebih dewasa. (J di S)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J yang baik, saya prihatin sekali dengan masalah Anda. Analisis saya memang ada yang salah dalam perkembangan kepribadian Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar maupun tidak sadar sebenarnya Anda ”marah” atas apa yang telah orangtua lakukan dalam pengasuhan mereka. Anda mengalami banyak konflik dalam hubungan perasaan dengan Ibu yang di satu sisi Anda pahami sangat menyayangi, tetapi Anda tidak terima dengan sikapnya yang otoriter dan tidak punya kompromi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga sangat kecewa terhadap sikap Ayah yang tidak bisa terlibat secara lebih akrab dan memenuhi kebutuhan masa kecil Anda akan perlindungan dan kasih sayang. Disertai dengan berbagai pengalaman hidup lain, semua itu membuat kepribadian Anda berkembang menjadi seorang yang labil secara emosi dan bimbang pada berbagai prinsip/nilai kehidupan lain, termasuk pilihan orientasi seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ”menyenangkan” dalam perjalanan cinta Anda juga harus berakhir buruk. Padahal, di situ Anda mendapatkan kenyamanan afeksi meski hanya sementara. Kemarahan Anda makin menjadi dan tampil dalam bentuk agresivitas seksual, meskipun masih sebatas imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, sebagai seorang yang kemudian paham penyebab masalah sendiri, seyogianya Anda bangkit dan keluar dari berbagai persoalan yang melanda. Sebagai anak muda, gairah seksual memang sedang meningkat, misalnya. Tetapi, Anda juga dapat menyalurkan melalui aktivitas lain yang lebih produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galilah potensi diri yang belum tertampil. Saya yakin Anda gadis pintar mengingat tulisan Anda. Cobalah terus memperluas pergaulan, baik dengan pria maupun wanita. Upayakan tidak terlalu terpaku pada cara orangtua memperlakukan Anda selama ini, karena Anda pun mampu bersikap lebih dewasa dan mencari panutan dari tokoh lain. Masalah Anda memang berat, bila perlu bisa berkonsultasi kepada psikolog di kota Anda. Salam sukses.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;Oleh : Agustine Dwiputri psikolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-2542176678782033109?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/2542176678782033109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/mengasuh-anak-bukan-hal-sepele.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/2542176678782033109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/2542176678782033109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2009/01/mengasuh-anak-bukan-hal-sepele.html' title='Mengasuh Anak Bukan Hal Sepele'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SWKM76-MfII/AAAAAAAAAPE/vbXLvNnbq1w/s72-c/827010-005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-4145131792144323701</id><published>2008-12-21T14:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T14:42:28.215-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang tua'/><title type='text'>Orangtua yang Super</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU7F-nPni2I/AAAAAAAAANk/fM8osjUaV98/s1600-h/bc8309-005.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 114px; height: 172px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU7F-nPni2I/AAAAAAAAANk/fM8osjUaV98/s200/bc8309-005.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282377092429220706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau membaca kehidupan para tokoh atau orang-orang yang secara prestasi itu bagus, mereka punya latar belakang sosial yang berbeda-beda saat masih anak-anak. Ada yang lahir dari keluarga serba cukup, berstatus sosial bagus, dan dibekali pendidikan formal yang bagus. Contoh-contohnya bisa kita temukan sendiri di sekitar kita.&lt;br /&gt;Tapi ada juga yang punya latar belakang kacau, serba kekurangan dan harus menghadapi kenyataan punya orangtua tunggal. Pak Garuda Sugardo, yang kini dipercaya sebagai wakil dirut Telkom, merupakan satu dari sekian ribu anak yang kecilnya harus hidup di panti asuhan sampai akhir remaja. Pak Sugiharto yang kini menteri juga pernah jadi tukang parkir, ikut tinggal di rumah orang lain sebagai tenaga pembantu apa saja sampai lulus SLTA. Begitu juga Mas Tukul Arwana atau Mas Yohanes Suryo. Contoh lainnya bisa kita tambah sebanyak mungkin dari fakta-fakta yang kita temui dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Nah, meskipun mereka punya latar belakang sosial yang bermacam-macam, namun sepertinya ada kesamaan yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran dalam mendidik anak-anak. Salah satu yang terpenting adalah keberadaan orang dewasa yang berperan sebagai orangtua saat itu, entah itu orangtuanya sendiri, orangtua angkatnya, atau siapa saja yang dianggap orangtua oleh si anak. Mereka, dalam proses perkembangannya, mendapati orang dewasa / orangtua yang Super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa orangtua yang Super itu? &lt;br /&gt;Pengertian orangtua yang super inipun bermacam-macam. Bahkan kerap terjadi perbedaan dalam memahani definisi ini. Secara umum dan secara prinsipil, orangtua yang super adalah orangtua yang sanggup memainkan peranan dirinya sebagai orangtua seoptimal mungkin  di mata anak-anak. Peranan yang optimal itu ditandai, salah satunya, dengan kemampuannya dalam memunculkan apa yang dalam teori pengetahuan disebut success factors.&lt;br /&gt;Setiap manusia punya sesuatu yang bisa disebut dengan istilah faktor kesuksesan dan faktor ketidaksuksesan. Faktor sukses itu misalnya punya kemauan keras, kejujuran, baik hati sama orang lain (helpful), kejelasan dalam melangkah, kegigihan dalam memperjuangkan tekad, disiplin, percaya-diri, dan seterusnya. Sedangkan faktor ketidaksuksesan itu misalnya: keminderan, kecil hati, penyimpangan moral, kemalasan, kekacauan, keputusasaan, konflik, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Karena kata kuncinya di sini adalah optimalisasi peranan, maka siapapun punya  kesempatan yang sama untuk menjadi orangtua yang bagus atau menjadi orangtua yang tidak bagus. Belum tentu orangtua yang pendidikannya bagus, ekonominya bagus, status sosialnya bagus bisa menjadi orangtua yang bagus bagi anak-anaknya. Sebaliknya, belum tentu juga seorang janda dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan, pendidikannya SD atau bahkan buta huruf, anaknya empat atau lima yang butuh dikasih makan, status sosialnya rendah, tinggal di rumah yang sangat-sangat sederhana, tidak sanggup menjadi orangtua yang bagus. &lt;br /&gt;Dari fakta-fakta seperti itu bisa kita katakan, orangtua yang status sosialnya bagus, ekonominya bagus, pendidikannya bagus, baru memiliki peluang untuk menjadi orangtua yang bagus. Peluang mereka lebih besar. Sebaliknya, orangtua yang serba kekurangan, banyak masalah, status sosial dan pendidikannya rendah, pun baru memiliki peluang untuk menjadi orangtua yang tidak bagus. Peluang yang saya maksudkan di sini adalah kemungkinan (possibility). Namanya juga kemungkinan, cara kerjanya sama seperti bunyi iklan: maybe yes and maybe no. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-4145131792144323701?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/4145131792144323701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/orangtua-yang-super.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4145131792144323701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4145131792144323701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/orangtua-yang-super.html' title='Orangtua yang Super'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU7F-nPni2I/AAAAAAAAANk/fM8osjUaV98/s72-c/bc8309-005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-9202938609640673280</id><published>2008-12-21T05:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T06:12:47.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>POLA RELASI ORANG TUA  VS ANAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU5KdGBzZwI/AAAAAAAAANU/alu4H8P0HVc/s1600-h/887007-003.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 114px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU5KdGBzZwI/AAAAAAAAANU/alu4H8P0HVc/s200/887007-003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282241276647008002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terhadap kecerdasan emosional ditinjau dari pola hubungan hubungan interpersonal. (0.000&lt;0.05). Lalu, pola hubungan seperti apa yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional? Kami melakukan identifikasi pola relasi Orang Tua – Anak dengan menggunakan acuan dasar teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relationships Orientation) yang kami olah ulang dengan menggunakan Analisis Faktor.&lt;br /&gt;EMPAT POLA RELASI ORANG TUA -ANAK&lt;br /&gt;Hasil perhitungan Analisis faktor terhadap teori FIRO ditemukan empat tipe Pola Relasi Orang Tua – Anak. Seperti apa ciri empat pola tersebut? Simak berikut ini:i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Equal Relationship&lt;br /&gt;Dalam Equal Relationship, orang tua memperlakukan anak bukan sebagai individu yang kedudukannya lebih rendah melainkan sebagai individu yang setara. Dengan demikian, seorang anak mempunyai lebih banyak kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap segala perilakunya, termasuk dalam hal mengendalikan emosi. Di sini anak belajar dari pengalaman berinteraksi dengan orang tuanya bahwa selama ini ia diberi kesempatan untuk bersaing ataupun bekerjasama dengan orang tuanya pada situasi tertentu sehingga ia akan belajar mengenali kelebihan dan kekurangannya sekaligus belajar untuk mengendalikan emosinya. Melalui proses belajar dari pengalaman sendiri, tanpa terlalu didominasi maupun terlalu didukung, maka seorang anak akan menjadi lebih matang secara emosional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan pendapat penulis, Damon mengatakan bahwa dalam pola hubungan interpersonal Equal Relationship, anak diberi pemahaman tentang perilaku baik dan buruk melalui pertanggungjawaban yang harus diberikan atas setiap perilakunya, anak memperoleh dukungan yang sesuai dari orang tuanya sehingga ia akan mempu memngembangkan kepedulian dan perhatian terhadap orang lain. Selain itu anak juga merasakan reaksi emosi negatif dari pengalaman pribadi mereka sehingga kecerdasan emosional mereka akan semakin berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Supportive Parent&lt;br /&gt;Sedangkan pada pola hubungan interpersonal Supportive Parent, orang tua selalu memberikan dukungan dan perhatian pada anak. Dengan pola hubungan interpersonal yang demikian, seorang anak akan memiliki kedekatan secara emosional dengan orang tuanya. Anak tersebut memiliki peluang untuk mampu mengenali dan mengolah emosi dengan baik. Namun kelemahan pola interaksi ini adalah anak tersebut akan kurang memiliki kompetensi dalam hal emosinya karena selama ini dalam menghadapi masa-masa sulit selalu ada orang tua yang mendampinginya.&lt;br /&gt;Dalam pola hubungan interpersonal Supportive Parent, anak selalu mendapat dukungan dari orang tua sehingga mereka akan lebih jarang mengalami reaksi emosi negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dominant Parent&lt;br /&gt;Sedangkan dalam pola hubungan interpersonal Dominant Parent, seorang anak berada dalam kendali orang tuanya. Dengan demikian anak akan merasa dalam keadaan “aman-aman” saja. Kelemahannya adalah setiap keputusan yang diambil harus mendapat persetujuan dari orang tua dan anak tidak diberi kesempatan untuk belajar memahami dan mengolah emosi berdasarkan pengalamannya sendiri sehingga anak tidak belajar bagaimana menerima resiko dan bertanggung jawab atas segala tindakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pola hubungan interpersonal Dominant Parent, segala sesuatunya sudah dikendalikan oleh orang tua sehingga anak kurang mendapat pemahaman tentang mana perilaku yang baik atau buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Distant Relationship&lt;br /&gt;Distant Relationship adalah pola hubungan interpersonal dimana ada jarak antara anak dan orang tua karena tidak ada kepercayaan antara anak dengan orang tuanya. Selain itu, anak merasa bahwa orang tua cenderung memaksakan kehendaknya dan harus dihiindari. Dengan adanya ketidaknyamanan secara emosi ini, akan membuat seorang anak lebih sulit untuk mengenali dan mengolah emosinya dengan baik. Pengalaman yang demikian juga akan membuat seorang anak sulit untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Sedangkan dalam Distant Relationship, anak kurang memperoleh pengkukuhan atas perilaku yang baik ataupun perilaku yang buruk dari orang tua karena adannya jarak dalam hubungan mereka sehingga kecerdasan emosional anak kurang berkembang. Selain itu mereka juga tidak merasa mendapat dukungan dari orang tua dalam masa-masa sulit merek sehingga akan sulit bagi mereka untuk mengembangkan kepedulian dan perhatian pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-9202938609640673280?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/9202938609640673280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/pola-relasi-orang-tua-vs-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/9202938609640673280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/9202938609640673280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/pola-relasi-orang-tua-vs-anak.html' title='POLA RELASI ORANG TUA  VS ANAK'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU5KdGBzZwI/AAAAAAAAANU/alu4H8P0HVc/s72-c/887007-003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-6971494979004443582</id><published>2008-12-21T05:45:00.001-08:00</published><updated>2008-12-21T05:48:37.417-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>Bagaimana Cara Mengetahui Bahasa Cinta Anak Saya ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU5JEZ9G3eI/AAAAAAAAANM/kF8hwO00aMY/s1600-h/885395-001.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU5JEZ9G3eI/AAAAAAAAANM/kF8hwO00aMY/s320/885395-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282239752987663842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sudah membaca artikel sebelumnya mengenai Apa Bahasa Cinta Anak Anda ? dan penjelasan tentang masing-masing bahasa cinta yaitu Kata-kata Pendukung, Waktu Berkualitas, Sentuhan Fisik, Hadiah dan Layanan maka sekarang Anda tentu ingin tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengetahui apa bahasa cinta anak anda bukan ? Di artikel ini Anda akan belajar beberapa cara untuk mengidentifikasi atau menentukan bahasa cinta utama dari anak anda. Walaupun anak senang bila kita melakukan kelima bahasa cinta padanya, tetapi anak Anda pasti mempunyai bahasa cinta utama dan kedua yang dominan. Nah itulah yang ingin kita identifikasi.&lt;br /&gt;Yang penting perlu Anda ketahui adalah mempelajari bahasa cinta itu membutuhkan waktu, demikian pula untuk menentukan bahasa cinta anak anda, membutuhkan waktu pengamatan paling tidak 2 minggu sampai dengan 1 bulan. Ok, jadi inilah cara-cara yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui bahasa cinta utama anak anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Amati Cara Anak Mengungkapkan Cintanya ke Anda sebagai Orangtuanya. Anak kecil cenderung mengungkapkan cintanya dengan bahasa cinta yang paling diinginkannya. Apabila anak berusia 5 hingga 8 tahun sering mengucapkan kata-kata penghargaan seperti “Ibu, saya senang sekali dengan makan malamnya” atau “Ayah, terima kasih ya atas bantuannya mengerjakan PR ku” atau “Mama, saya sayang Mama”, Anda boleh menduga dengan tepat bahwa bahasa cinta utamanya adalah kata-kata pendukung.&lt;br /&gt;Metode identifikasi ini agak kurang efektif pada anak berusia 12 tahun keatas, terutama dengan mereka yang pernah berhasil memanipulasi yaitu anak mengetahui bahwa orangtua cenderung mengikuti kehendaknya bila dia mengucapkan kata-kata manis ke orangtuanya. Itu sebabnya metode ini paling baik digunakan pada anak berusia 5 hingga 10 tahun.&lt;br /&gt;2. Amati Cara Anak Mengungkapkan Cintanya kepada Orang Lain. Apabila anak kelas satu selalu ingin memberi gurunya sesuatu (dari keinginan anak sendiri, bukan suruhan kita sebagai orangtua), hal ini mungkin menandakan bahwa bahasa cinta utamanya adalah menerima hadiah. Seorang anak yang bahasa cintanya adalah hadiah, akan senang luar biasa sewaktu ia menerima hadiah dan ingin orang lain juga menikmati kesenangan yang sama.&lt;br /&gt;3. Mendengarkan Permintaan yang Paling Sering Diajukan Anak. Apabila anak anda seringkali mengajak Anda bermain dengannya, mengajak Anda berjalan-jalan bersama atau duduk dan membacakannya sebuah cerita, berarti ia sedang meminta waktu berkualitas. Apabila banyak permintaanya yang cocok dengan pola ini, kemungkinan besar bahasa cintanya adalah Waktu Berkualitas. Memang semua anak butuh perhatian dari orangtuanya, tetapi bagi anak yang bahasa cintanya adalah Waktu Berkualitas, jumlah permintaannya akan waktu bersama akan jauh lebih banyak daripada permintaan lain.&lt;br /&gt;Apabila anak anda terus-menerus meminta anda komentar tentang hasil kerjanya seperti “Menurut mama gambar buatan saya ini bagaimana ? bagus gak ?” atau “Ma, aku pakai baju ini tampak cantik gak ma ?”, mungkin bahasa cintanya adalah Kata-kata Pendukung. Memang semua anak membutuhkan dan menginginkan kata-kata seperti ini tetapi anak yang punya bahasa cinta kata-kata pendukung cenderung permintaan ini yang dominan.&lt;br /&gt;4. Perhatikan Keluhan yang Paling Sering Disampaikan oleh Anak. Jika anak sering mengeluh tidak menerima sesuatu dari orangtuanya seperti “Ibu / Ayah tidak pernah punya waktu buat saya” atau “Ibu selalu harus merawat bayi” atau “Kita tidak pernah pergi bersama-sama”, kemungkinan bahasa cintanya adalah Waktu Berkualitas. Kalau dia hanya sekali-sekali mengeluhkan kurangnya waktu bersama, memang tidak langsung berarti bahasa cintanya adalah waktu berkualitas. Setiap anak kadangkala memang lagi suka mengeluh, tetapi bila pola keluhannya konsisten, itu dapat menjadi petunjuk dari bahasa cintanya.&lt;br /&gt;5. Membiarkan Anak Memilih Satu dari Antara Dua. Anda bisa mengetahui bahasa cinta utama anak Anda dengan membuat dia memilih salah satu dari dua bahasa cinta. Sebagai contoh, seorang ayah mungkin berkata ke anaknya yang berusia sepuluh tahun “Budi, Ayah akan pulang lebih awal Kamis sore, kita bisa pergi mancing bersama atau membantumu memilih sepatu basket baru. Mana yang kau sukai ?” Anak mempunyai pilihan di antara Waktu Berkualitas dan Hadiah. Seorang ibu bisa mengatakan kepada puterinya “Sore ini ibu punya waktu luang, kita bisa jalan-jalan bersama atau memperbaiki rok barumu. Mana yang lebih kau sukai ?” Pilihan ini jelas adalah antara waktu berkualitas dan layanan. Pilihan-pilihan ini bisa memberi petunjuk tentang bahasa cinta anak anda.&lt;br /&gt;Berikan beberapa pilihan selama beberapa minggu dan catatlah pilihan si anak. Apabila sebagaian besar pilihannya konsisten di salah satu bahasa cinta, kemungkinan besar Anda telah menemukan bahasa cinta anak Anda. Jika Anak anda tidak menginginkan kedua pilihan Anda, coba lagi dengan pilihan lain. Dengan waktu dan ketekunan, Anda akan menemukan pola yang konsisten ini.&lt;br /&gt;Itulah 5 metode / cara yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui bahasa cinta utama anak Anda. Dengan mengetahui bahasa cinta utama anak Anda, anda sebagai orangtua akan memiliki sebuah cara yang efektif dalam mengisi tangki cinta anak Anda.&lt;br /&gt;Selamat menjadi orangtua yang menjadi pujaan anak anda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-6971494979004443582?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/6971494979004443582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/bagaimana-cara-mengetahui-bahasa-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6971494979004443582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6971494979004443582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/bagaimana-cara-mengetahui-bahasa-cinta.html' title='Bagaimana Cara Mengetahui Bahasa Cinta Anak Saya ?'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SU5JEZ9G3eI/AAAAAAAAANM/kF8hwO00aMY/s72-c/885395-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-6052176755512323076</id><published>2008-12-04T13:10:00.001-08:00</published><updated>2008-12-04T14:48:28.528-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>Mengajak Anak Mimpi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SThIxRp73AI/AAAAAAAAAKs/whfcG9XsTwc/s1600-h/823381-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SThIxRp73AI/AAAAAAAAAKs/whfcG9XsTwc/s200/823381-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276046974854618114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak laki-laki, Ronald, memiliki guru Bahasa Inggris yang hanya menilai karangannya berdasarkan tata bahasa dan ejaannya saja. Namun, Bapak B.J. Frazer, guru Bahasa Inggris Ronald di sekolah yang baru, mengumumkan bahwa isi karangan juga akan dinilai, bahkan Bapak Frazer mengembangkan metode pengajarannya dengan menghidupkan sesi drama dalam kelasnya. Sang guru dengan semangat menantang murid-muridnya untuk membuat tulisan / karangan yang berakar pada ide/topik yang beragam bahkan murid dibiasakan untuk menganalisa karakter yang mereka kisahkan/perankan dalam sesi  drama. Menghayati peran yang bagus tidak hanya sekedar menghafalkan dialog dan tata bahasanya tapi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat stimulasi seperti “Apakah arti karakter yang engkau mainkan berdasarkan dialog itu?” telah membuat Ronald berusaha untuk benar-benar mendalami karakter dalam karangannya agar mampu mengetahui motivasinya. Ronald tak hanya belajar Bahasa Inggris tapi langsung mencoba untuk mengerti apa yang dirasakan peran tersebut dengan mencoba menempatkan dirinya dalam karakter itu. Skala penilaian yang baru memicu imajinasi Ronald. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesan dengan kepolosan Ronald yang menyegarkan, Bapak Frazer seringkali memilihnya untuk membacakan karangan kreatifnya di depan kelas. Teman-temannya kagum dan tertawa melihat Ronald membacanya di depan kelas sekelasnya. Ronald dengan sengaja mulai memasukkan unsur hiburan ke dalam tulisannya sampai suatu saat dia sukses dalam audisi untuk sebuah drama yang disutradarai oleh Bapak Frazer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman unik ketika bersekolah, meninggalkan kesan mendalam di dalam dirinya. Kesan ini yang mengantarkannya ke gerbang Warner Brothers di Burbank, California ketika menginjak usia 29 tahun. Saat Ronald gugup menghadapi casting film pertamanya, ia teringat pengalamannya di sekolah dulu. Keinginannya untuk membuat Bapak Frazer bangga merupakan satu-satunya obat terampuh mengusir kecemasan casting pertamanya. Ronald kemudian membintangi lebih dari 50 film bahkan dia terpilih menjadi Presiden Screen Actors Guild. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 1 peristiwa yang ternyata tak hanya membuat Ronald menjadi aktor yang cukup disegani dalam dunia perfilman, tapi juga membuat publik Amerika mendukungnya untuk berkiprah dalam dunia politik. Peristiwa itu terjadi saat Ronald berbicara dengan penuh semangat atas nama seorang kandidat nasional yang didukungnya,”Engkau dan saya punya kesamaan nasib. Kita dapat menyiapkan anak-anak kita untuk hal-hal seperti : harapan terbaik, mimpi terindah atau kita dapat mengarahkan mereka untuk melangkahkan kaki ke dalam kegelapan selama beribu-ribu tahun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Frazer mungkin tidak pernah membayangkan pengaruh dari apa yang telah dia berikan dalam kelasnya terhadap murid-muridnya. Dia juga tidak pernah membayangkan Ronald akan menggunakan banyak cara dalam proses belajarnya yang mencakup tak hanya dari segi akademik saja,”Proses yang dikenal dengan nama empati bukanlah sebuah latihan yang buruk untuk orang yang berkecimpung di dalam dunia politik (atau untuk profesi lain),” Ronald menggambarkan,”Dengan mengembangkan kemampuan untuk menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, akan membantu anda dalam menjalin hubungan yang lebih baik terhadap sesama dan mengerti mengapa mereka berpikir seperti yang mereka pikirkan, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang cukup berbeda dari anda”. Ronald tak hanya telah berhasil membawa Amerika keluar dari kehancuran ekonomi, namun visi, karakter dan rasa optimisnya menginspirasi sifat dan patriotisme warga Amerika Serikat menjadi lebih tinggi. Ronald menantang warganya untuk berpikir sehingga jendela-jendela mimpi tiap-tiap individu terbuka.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengajarkan anak-anak Anda untuk bermimpi?     &lt;br /&gt;&lt;a href="http://sekolahorangtua.com"&gt;By Ariesandi S.,CHt&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-6052176755512323076?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/6052176755512323076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/mengajak-anak-mimpi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6052176755512323076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/6052176755512323076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/12/mengajak-anak-mimpi.html' title='Mengajak Anak Mimpi'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SThIxRp73AI/AAAAAAAAAKs/whfcG9XsTwc/s72-c/823381-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2704445146029620848.post-4500509092301863404</id><published>2008-11-16T08:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T14:46:18.788-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>Bahasa Cinta Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SSBLCgwbDgI/AAAAAAAAAHs/xdX6sQjW0SM/s1600-h/885395-002.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SSBLCgwbDgI/AAAAAAAAAHs/xdX6sQjW0SM/s320/885395-002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269294070548336130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sudah membaca artikel sebelumnya mengenai Apa Bahasa Cinta Anak Anda ? dan penjelasan tentang masing-masing bahasa cinta yaitu Kata-kata Pendukung, Waktu Berkualitas, Sentuhan Fisik, Hadiah dan Layanan maka sekarang Anda tentu ingin tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengetahui apa bahasa cinta anak anda bukan ? Di artikel ini Anda akan belajar beberapa cara untuk mengidentifikasi atau menentukan bahasa cinta utama dari anak anda. Walaupun anak senang bila kita melakukan kelima bahasa cinta padanya, tetapi anak Anda pasti mempunyai bahasa cinta utama dan kedua yang dominan. Nah itulah yang ingin kita identifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting perlu Anda ketahui adalah mempelajari bahasa cinta itu membutuhkan waktu, demikian pula untuk menentukan bahasa cinta anak anda, membutuhkan waktu pengamatan paling tidak 2 minggu sampai dengan 1 bulan. Ok, jadi inilah cara-cara yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui bahasa cinta utama anak anda.&lt;br /&gt;1. Amati Cara Anak Mengungkapkan Cintanya ke Anda sebagai Orangtuanya. Anak kecil cenderung mengungkapkan cintanya dengan bahasa cinta yang paling diinginkannya. Apabila anak berusia 5 hingga 8 tahun sering mengucapkan kata-kata penghargaan seperti “Ibu, saya senang sekali dengan makan malamnya” atau “Ayah, terima kasih ya atas bantuannya mengerjakan PR ku” atau “Mama, saya sayang Mama”, Anda boleh menduga dengan tepat bahwa bahasa cinta utamanya adalah kata-kata pendukung.&lt;br /&gt;Metode identifikasi ini agak kurang efektif pada anak berusia 12 tahun keatas, terutama dengan mereka yang pernah berhasil memanipulasi yaitu anak mengetahui bahwa orangtua cenderung mengikuti kehendaknya bila dia mengucapkan kata-kata manis ke orangtuanya. Itu sebabnya metode ini paling baik digunakan pada anak berusia 5 hingga 10 tahun.&lt;br /&gt;2. Amati Cara Anak Mengungkapkan Cintanya kepada Orang Lain. Apabila anak kelas satu selalu ingin memberi gurunya sesuatu (dari keinginan anak sendiri, bukan suruhan kita sebagai orangtua), hal ini mungkin menandakan bahwa bahasa cinta utamanya adalah menerima hadiah. Seorang anak yang bahasa cintanya adalah hadiah, akan senang luar biasa sewaktu ia menerima hadiah dan ingin orang lain juga menikmati kesenangan yang sama.&lt;br /&gt;3. Mendengarkan Permintaan yang Paling Sering Diajukan Anak. Apabila anak anda seringkali mengajak Anda bermain dengannya, mengajak Anda berjalan-jalan bersama atau duduk dan membacakannya sebuah cerita, berarti ia sedang meminta waktu berkualitas. Apabila banyak permintaanya yang cocok dengan pola ini, kemungkinan besar bahasa cintanya adalah Waktu Berkualitas. Memang semua anak butuh perhatian dari orangtuanya, tetapi bagi anak yang bahasa cintanya adalah Waktu Berkualitas, jumlah permintaannya akan waktu bersama akan jauh lebih banyak daripada permintaan lain.&lt;br /&gt;Apabila anak anda terus-menerus meminta anda komentar tentang hasil kerjanya seperti “Menurut mama gambar buatan saya ini bagaimana ? bagus gak ?” atau “Ma, aku pakai baju ini tampak cantik gak ma ?”, mungkin bahasa cintanya adalah Kata-kata Pendukung. Memang semua anak membutuhkan dan menginginkan kata-kata seperti ini tetapi anak yang punya bahasa cinta kata-kata pendukung cenderung permintaan ini yang dominan.&lt;br /&gt;4. Perhatikan Keluhan yang Paling Sering Disampaikan oleh Anak. Jika anak sering mengeluh tidak menerima sesuatu dari orangtuanya seperti “Ibu / Ayah tidak pernah punya waktu buat saya” atau “Ibu selalu harus merawat bayi” atau “Kita tidak pernah pergi bersama-sama”, kemungkinan bahasa cintanya adalah Waktu Berkualitas. Kalau dia hanya sekali-sekali mengeluhkan kurangnya waktu bersama, memang tidak langsung berarti bahasa cintanya adalah waktu berkualitas. Setiap anak kadangkala memang lagi suka mengeluh, tetapi bila pola keluhannya konsisten, itu dapat menjadi petunjuk dari bahasa cintanya.&lt;br /&gt;5. Membiarkan Anak Memilih Satu dari Antara Dua. Anda bisa mengetahui bahasa cinta utama anak Anda dengan membuat dia memilih salah satu dari dua bahasa cinta. Sebagai contoh, seorang ayah mungkin berkata ke anaknya yang berusia sepuluh tahun “Budi, Ayah akan pulang lebih awal Kamis sore, kita bisa pergi mancing bersama atau membantumu memilih sepatu basket baru. Mana yang kau sukai ?” Anak mempunyai pilihan di antara Waktu Berkualitas dan Hadiah. Seorang ibu bisa mengatakan kepada puterinya “Sore ini ibu punya waktu luang, kita bisa jalan-jalan bersama atau memperbaiki rok barumu. Mana yang lebih kau sukai ?” Pilihan ini jelas adalah antara waktu berkualitas dan layanan. Pilihan-pilihan ini bisa memberi petunjuk tentang bahasa cinta anak anda.&lt;br /&gt;Berikan beberapa pilihan selama beberapa minggu dan catatlah pilihan si anak. Apabila sebagaian besar pilihannya konsisten di salah satu bahasa cinta, kemungkinan besar Anda telah menemukan bahasa cinta anak Anda. Jika Anak anda tidak menginginkan kedua pilihan Anda, coba lagi dengan pilihan lain. Dengan waktu dan ketekunan, Anda akan menemukan pola yang konsisten ini.&lt;br /&gt;Itulah 5 metode / cara yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui bahasa cinta utama anak Anda. Dengan mengetahui bahasa cinta utama anak Anda, anda sebagai orangtua akan memiliki sebuah cara yang efektif dalam mengisi tangki cinta anak Anda.&lt;br /&gt;Selamat menjadi orangtua yang menjadi pujaan anak anda !&lt;br /&gt;Oleh sukarto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2704445146029620848-4500509092301863404?l=orangtua-super.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-super.blogspot.com/feeds/4500509092301863404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/11/bahasa-cinta-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4500509092301863404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2704445146029620848/posts/default/4500509092301863404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-super.blogspot.com/2008/11/bahasa-cinta-anak.html' title='Bahasa Cinta Anak'/><author><name>Tri Gozali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06315305590659269534</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SYBaTPwF1vI/AAAAAAAAAVQ/2etRk97QXJI/S220/100_1102.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QlDRahd2yqo/SSBLCgwbDgI/AAAAAAAAAHs/xdX6sQjW0SM/s72-c/885395-002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
